The Party is about ………..

17.25

Aku sudah selesai dan jujur saja tidak berubah banyak dari awalnya. Hanya berganti rambut dan jerawatku tidak terlihat. Tapi karena Chelli tampak puas aku pun berpura-pura tersenyum.

Aku turun dan mendapati Hye Jin masih duduk disana, kali ini sudah memakai jas kemeja putih dan celana hitam. Disampingnya ada sehelai blazer berwarna hitam. Rambutnya yang lumayan panjang dibiarkan begitu saja.

Sebelum aku sempat berbicara Chelli sudah duluan berbicara pada Hye Jin dengan bahasa yang tidak kukenali. Tapi bukan bahasa Inggris karena aku pasti tau.

Setelah itu mereka berdua menatapku. Aku balik menatap mereka. Memangnya ada yang aneh denganku? Aku memang tidak cocok dengan dress-nya, dan rambutku pasti sangat aneh.

Hye Jin lalu bebicara pada Chelli sambil menunjukku. Chelli mengangguk-angguk lalu mengajakku kembali ke atas. Aku hanya mengikuti.

Chelli menggerai rambutku dan mulai mencatoknya. Aku lebih suka seperti ini, tergerai dan lurus. Rambutku biasanya bergelombang. Lalu ia menyuruhku untuk memilih baju yang dibawanya. Kebanyakan sangat glamor seperti baju yang kupakai.

Mungkin di imajinasimu muncul gadis mewah dengan baju anggun saat kukatakan dress. Tapi tidak, dress ini bercorak macan totol dan berbulu. Ketat dan aneh menurutku.

Aku akhirnya memilih sebuah dress putih polos dengan potongan menutup leher, tanpa tangan, tidak ketat dan tidak membentuk tubuh ( aku punya masalah dengan lemak di perutku ) dan panjangnya sampai selutut.

Awalnya Chelli menatapku tidak percaya. Kerutan di dahinya berlipat-lipat. Tapi akhirnya ia setuju dan menambahkan gliter disamping mata kiriku serta menebalkan eyelinerku menjadi model smoky. Aku merasa berbeda dari yang tadi. Tapi rasanya leherku terlalu polos.

18.05

Aku turun lagi. Kali ini Hye Jin tidak berkomentar dan beranjak dari sofanya ke luar. Dibawah, Chelli tersenyum padaku dan menyerahkan sepasang sepatu putih dan tas kecil yang juga berwarna putih. Aku berterimakasih dan memakainya. Setelah itu aku mengikuti Hye Jin kedalam mobilnya.

Kami melaju ke jalan raya. Keluar dari taman ini rasanya sudah memakan sepuluh menit. Tak berapa lama kemudian Hye Jin berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Aku tidak protes, ia bukan membelikannya untukku namun untuk nama baiknya dalam keluarga.

Aku mengikutinya masuk ke dalam toko itu. Ia mengobrol dengan penjaga toko sambil menunjuk beberapa barang di etalase. Aku hanya duduk di bangku yang disediakan. Perhiasan bukanlah mainanku. Aku hanya suka cincin karena jariku lentik.

Hye Jin lalu memanggilku mendekatinya. Aku menghampirinya dan ia merangkulku seakan sudah biasa. Akupun bersikap biasa walaupun sedikit deg-degan juga.

Di depanku ada dua kalung yang disejajarkan. Aku menatap Hye Jin. Kukira ia akan memilihkannya untukku.

“Kamu aja yang pilih.” Ucapku pelan.

“Diliat aja cocok yang mana.” Ujar Yoon, nama gadis penjualnya itu sambil menarik sebuah kaca.

Hye Jin mengambil salah satu kalung di etalase. Aku reflex membelakanginya dan menyampingkan rambutku. Sedetik kemudian aku sadar aku tidak sedang membeli perhiasan dengan eonni. Saat aku hendak berbalik Hye Jin sudah duluan mengalungkan kalung itu dan memasangnya. Dari kaca aku bisa melihat ia tersenyum. Pipiku memerah.

“Dasar manja.” Candanya pelan masih dengan senyumnya.

“Yaudah aku pake sendiri.” Ucapku melepas kalung itu dan mengambil satunya.

“Sini aku pakein.” Ujar Hye Jin merebut kalung itu dariku. Aku menggeleng dan tidak berbalik. Dari sudut mataku, sang penjaga toko sedang menahan tawa.

“Nggak, sini.” Balasku meminta kalung itu darinya. Ia menggeleng lalu maju selangkah dan menunduk untuk memakaikan kalungku dari depan. Aku yang kaget hanya diam.

Aku bersumpah bahwa aku mengira ia akan memelukku. Ia lalu mundur selangkah dan fokus pada kalung yang kupakai dan yang sebelumnya. Sementara aku sibuk menenangkan diri.

“Yang ini lebih bagus ya?” Tanyanya sambil menunjuk leherku.

Yoon juga kembali fokus pada kalungku. Apa hanya aku yang terlalu over reacted? Lalu sebuah pikiran terlintas di benakku, aku mungkin bukan gadis pertama yang ia bawa kesini walaupun ini di Korea.

“Yang ini aja ya Rae?” Tanya Hye Jin sambil menunjuk kalung yang kupakai. Aku mengangguk saja dan berjalan disampingnya menuju tempat gelang.

Ia memandangi ke dalam etalase selama Yoon menjelaskan gelang-gelang itu. Aku hendak berbalik tapi ia menahan tanganku, bahkan tanpa melihat Ia menarikku pelan dan merangkulku. Siapa yang menjadi manja sekarang?

Kali ini ia hanya memilih satu dan menyuruhku untuk langsung memakainya. Aku menurut dan setelah ia membayar kami masuk ke mobilnya.

“Thanks, walaupun cuma buat malam ini.” Ucapku menunjuk kalung dan gelang yang kupakai.

“Memang untukmu kok.” Ujarnya.

“Nggak ah, kasih pacarmu yang lain aja.” Candaku walaupun ia tidak tertawa.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di sebuah rumah. Rumah itu terletak di dalam sebuah komplek perumahan yang mewah. Kami turun di rumah yang indah, terbuat dari kayu dan sangat menonjolkan aspek nature.

Dari luar, suasananya sangat alami dan hangat, tapi saat aku masuk kedalam begitu banyak orang yang berkumpul, perasaanku menjadi tertekan. Kukira ini hanya acara keluarga, kenapa banyak sekali orang yang berkumpul?

“Happy Birthday Shim Hye Jin!” Teriak beberapa anak kecil yang mengerumuninya. Aku terdiam seketika, aku tidak tau kalau ia hari ini ulang tahun. Ia tersenyum padaku dan mencium pipiku. Aku berpura pura tertawa dan bertepuk tangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s