Thankyou Jun

Aku terbangun dengan tiga sms di handphoneku ; Hyeon, Hye Jin, dan Jun.

“Eonni maafkan aku. Aku sudah bilang yang sebetulnya pada Hye Jin…..” Tulis Hyeon. Aku tidak membalasnya, katakanlah aku kekanak-kanakan. Tapi aku tidak menyukai caranya.

“Oh jadi begitu. Tapi aku tidak bisa dengan tiba-tiba membatalkan semuanya seperti itu. Nama ku bisa tercoreng.” Dari Hye Jin. Aku juga tidak membalas pesannya.

“Maaf noona tadi sudah membawamu, eh malah merepotkan. Hm.. Noona pacar Leon DW?”Dari Jun. Aku segera membalasnya.

“Bukan. Itu kesalahan keponakkanku, panjang ceritanya. Aku juga baru tau hari ini. Tidak apa-apa, maaf aku pulang hanya meninggalkan sms. Semuanya terjadi begitu cepat.” Aku memberinya penjelasan singkat yang panjang.

Aku merasakan perutku mulai lapar. Jam berapa ini? Aku mengecek handphoneku, 11.25 sudah larut sekali. Aku memesan makanan.

“Belum tidur? Kami baru saja selesai latihan.” Balas Jun.

“Baru terbangun, tadi malah sengaja tidur.” Balasku.

“Sepertinya masalah itu berat sekali. Kamu tau kamu bisa cerita padaku kapan saja.” Balasnya.

“Aku tidak tau harus mulai darimana.” Aku tidak biasanya seterbuka ini. Aku hanya butuh teman. Ucapku meyakinkan diri sendiri.

“Aku akan kesana, pesankan makanan untukku ya noona.” Balasnya memutuskan sendiri seenaknya.

“Kamu butuh istirahat pergilah pulang dan jaga dirimu.” Balasku munafik. Padahal aku sendiri sangat menyetujui gagasannya. Tapi aku tidak bisa berbuat seegois itu kan?

“Aku bisa jaga diri disana.” Balas Jun keras kepala. Tapi aku dengan egoisnya merasa senang.

“Jangan kesini sudah tidak ada bus.” Balasku munafik.

“Terlambat sekali. Tunggu aku lima menit, aku sudah ada disana.

“Keras kepala.” Balasku walaupun aku senang dia mau datang, senang sekali malah.

“Memang.” Balasnya. Aku tidak membalas lagi dan memesankannya makanan juga. Tak berapa lama makananku sampai, disusul dirinya dua menit kemudian.

“Hai Rae.” Sapanya saat masuk sambil melepas jaketnya. Rambut merahnya masih sedikit berkeringat.

“Sudah dibilang jangan kesini.” Ujarku sambil menutupi senyumku dengan menyalakan TV.

“Disitu kau menulis?” Tanyanya sambil menunjuk laptop kesayanganku. Aku mengangguk.

“Serius deh, pria dan wanita dalam satu kamar hotel bukan sesuatu yang etis.” Ujarku serius. Tapi Jun hanya tersenyum seperti anak kecil lalu berjalan ke balkon yang jarang sekali kutempati.

“Sini Rae, dengan begitu kita tidak dalam kamar lagi.” Ajaknya sambil duduk santai di lantai kayu balkon itu.

“Heii, kau lebih muda dariku tau.” Omelku tapi duduk juga di sampingnya.

“Baiklah noona.” Balasnya.

“Jadi ada apa? Kau tiba-tiba berteriak ‘apa’ dengan sangat kencang lalu saat Lee mengecek keluar kau tidak ada. Lalu tiba-tiba aku medapat pesan bahwa kamu pulang.” Tanya Jun panjang lebar. Aku lebih suka mendengarkan suaranya daripada bicara padanya, tapi ia sudah datang disini.

Aku menceritakan semuanya, pertemuan dengan Hye Jin kedatangannya kerumah, intinya semuanya. Jun tidak menyela ceritaku, hanya menatapku serius. Sampai aku berhenti berbicara.

“Selesaikanlah dengan baik-baik noona. Setelah trip ini berakhir, bicarakan saja dengan kepala dingin. Pasti ada solusi memungkinkan dari kejadian ini.” ucapnya.

“Gadis itu, kau tidak ingin menyakitinya kan?” Lanjut Jun lagi.

Jun benar, aku harusnya menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Bukannya frustasi dan membuat Hyeon takut. Aku menyayangi Hyeon bagaikan adikku dan tidak ingin melukainya. Aku terdiam.

“Pikirkan cara terbaik, minum pil tidur tidak akan mengubah apapun, bahkan tidak menyelesaikan masalah. Hoaamm….” Ucapnya pelan. Ia bahkan menguap dan bersandar padaku. Dari dekat aku bisa melihat kantung matanya. Ia pasti sangat lelah, tapi masih datang kesini.

“Aku tidak minum pil tidur.” Ucapku pelan sekali, takut mengganggunya.

“Hmm..” Ia mengumam dan terlelap seperti anak kecil.

Aku memeluk lututku dalam kebimbangan. Rambut merahnya sedikit menggelitik leherku tapi aku berusaha tidak memperhatikan rambutnya atau jantungku yang berdetak sangat kencang.

Mungkin efek cokelat, pikirku menyangkal ketertarikanku pada Jun. Kemungkinan karena tadi habis makan cokelat juga sih, lagipula umur kami berbeda dua tahun.

Aku menatap wajahnya yang terlihat semakin lelah dengan kantung mata dan nafas yang berat. Aku mengelus rambut merahnya, aku menyukai merah. Terimakasih Jun.

Aku menghembuskan nafas dan menyandarkan kepalaku diatas kepalanya. Aku merasa sangat nyaman dan tertidur walaupun aku sebetulnya baru terbangun beberapa menit yang lalu. Aku mulai yakin aku memang kebo.Aku terbangun dengan tiga sms di handphoneku ; Hyeon, Hye Jin, dan Jun.

“Eonni maafkan aku. Aku sudah bilang yang sebetulnya pada Hye Jin…..” Tulis Hyeon. Aku tidak membalasnya, katakanlah aku kekanak-kanakan. Tapi aku tidak menyukai caranya.

“Oh jadi begitu. Tapi aku tidak bisa dengan tiba-tiba membatalkan semuanya seperti itu. Nama ku bisa tercoreng.” Dari Hye Jin. Aku juga tidak membalas pesannya.

“Maaf noona tadi sudah membawamu, eh malah merepotkan. Hm.. Noona pacar Leon DW?”Dari Jun. Aku segera membalasnya.

“Bukan. Itu kesalahan keponakkanku, panjang ceritanya. Aku juga baru tau hari ini. Tidak apa-apa, maaf aku pulang hanya meninggalkan sms. Semuanya terjadi begitu cepat.” Aku memberinya penjelasan singkat yang panjang.

Aku merasakan perutku mulai lapar. Jam berapa ini? Aku mengecek handphoneku, 11.25 sudah larut sekali. Aku memesan makanan.

“Belum tidur? Kami baru saja selesai latihan.” Balas Jun.

“Baru terbangun, tadi malah sengaja tidur.” Balasku.

“Sepertinya masalah itu berat sekali. Kamu tau kamu bisa cerita padaku kapan saja.” Balasnya.

“Aku tidak tau harus mulai darimana.” Aku tidak biasanya seterbuka ini. Aku hanya butuh teman. Ucapku meyakinkan diri sendiri.

“Aku akan kesana, pesankan makanan untukku ya noona.” Balasnya memutuskan sendiri seenaknya.

“Kamu butuh istirahat pergilah pulang dan jaga dirimu.” Balasku munafik. Padahal aku sendiri sangat menyetujui gagasannya. Tapi aku tidak bisa berbuat seegois itu kan?

“Aku bisa jaga diri disana.” Balas Jun keras kepala. Tapi aku dengan egoisnya merasa senang.

“Jangan kesini sudah tidak ada bus.” Balasku munafik.

“Terlambat sekali. Tunggu aku lima menit, aku sudah ada disana.

“Keras kepala.” Balasku walaupun aku senang dia mau datang, senang sekali malah.

“Memang.” Balasnya. Aku tidak membalas lagi dan memesankannya makanan juga. Tak berapa lama makananku sampai, disusul dirinya dua menit kemudian.

“Hai Rae.” Sapanya saat masuk sambil melepas jaketnya. Rambut merahnya masih sedikit berkeringat.

“Sudah dibilang jangan kesini.” Ujarku sambil menutupi senyumku dengan menyalakan TV.

“Disitu kau menulis?” Tanyanya sambil menunjuk laptop kesayanganku. Aku mengangguk.

“Serius deh, pria dan wanita dalam satu kamar hotel bukan sesuatu yang etis.” Ujarku serius. Tapi Jun hanya tersenyum seperti anak kecil lalu berjalan ke balkon yang jarang sekali kutempati.

“Sini Rae, dengan begitu kita tidak dalam kamar lagi.” Ajaknya sambil duduk santai di lantai kayu balkon itu.

“Heii, kau lebih muda dariku tau.” Omelku tapi duduk juga di sampingnya.

“Baiklah noona.” Balasnya.

“Jadi ada apa? Kau tiba-tiba berteriak ‘apa’ dengan sangat kencang lalu saat Lee mengecek keluar kau tidak ada. Lalu tiba-tiba aku medapat pesan bahwa kamu pulang.” Tanya Jun panjang lebar. Aku lebih suka mendengarkan suaranya daripada bicara padanya, tapi ia sudah datang disini.

Aku menceritakan semuanya, pertemuan dengan Hye Jin kedatangannya kerumah, intinya semuanya. Jun tidak menyela ceritaku, hanya menatapku serius. Sampai aku berhenti berbicara.

“Selesaikanlah dengan baik-baik noona. Setelah trip ini berakhir, bicarakan saja dengan kepala dingin. Pasti ada solusi memungkinkan dari kejadian ini.” ucapnya.

“Gadis itu, kau tidak ingin menyakitinya kan?” Lanjut Jun lagi.

Jun benar, aku harusnya menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Bukannya frustasi dan membuat Hyeon takut. Aku menyayangi Hyeon bagaikan adikku dan tidak ingin melukainya. Aku terdiam.

“Pikirkan cara terbaik, minum pil tidur tidak akan mengubah apapun, bahkan tidak menyelesaikan masalah. Hoaamm….” Ucapnya pelan. Ia bahkan menguap dan bersandar padaku. Dari dekat aku bisa melihat kantung matanya. Ia pasti sangat lelah, tapi masih datang kesini.

“Aku tidak minum pil tidur.” Ucapku pelan sekali, takut mengganggunya.

“Hmm..” Ia mengumam dan terlelap seperti anak kecil.

Aku memeluk lututku dalam kebimbangan. Rambut merahnya sedikit menggelitik leherku tapi aku berusaha tidak memperhatikan rambutnya atau jantungku yang berdetak sangat kencang.

Mungkin efek cokelat, pikirku menyangkal ketertarikanku pada Jun. Kemungkinan karena tadi habis makan cokelat juga sih, lagipula umur kami berbeda dua tahun.

Aku menatap wajahnya yang terlihat semakin lelah dengan kantung mata dan nafas yang berat. Aku mengelus rambut merahnya, aku menyukai merah. Terimakasih Jun.

Aku menghembuskan nafas dan menyandarkan kepalaku diatas kepalanya. Aku merasa sangat nyaman dan tertidur walaupun aku sebetulnya baru terbangun beberapa menit yang lalu. Aku mulai yakin aku memang kebo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s