Ribet!

Hari keempat disana terus hujan sepanjang hari, aku baru sampai di tempat mereka jam sepuluh pagi.

Diluar ruangan mereka practice aku mendengar mereka sedang mengobrol, dan Jun juga ikut. Kukira ia jarang bicara, ternyata ia banyak bicara saat mengobrol. Aku masuk dan menyapa mereka.

Mereka bangun dan menyapaku balik. Setelah itu mereka semua duduk kecuali Jun yang pergi ke ruang practicenya. Hatiku terasa sakit, ia membenciku sampai segitunya?

“Rae-ssi, hari ini kita akan ada fan-meet di X university.” Ucap Zac mengajakku duduk. Aku memasang senyum dan ikut dalam percakapan itu. Aku mengikuti fanmeet mereka yang berlangsung cepat lalu pulang.

Di hotel aku berusaha menulis sebaik mungkin. Entahlah, aku kesal sekali atas sikap Jun tadi pagi. Setelah menulis tentang fanmeet mereka aku pun tertidur.

Esok paginya aku menelepon Momo-san dengan kesal. Entah kenapa pagi itu aku merasa sangat emosional. Aku bermimpi tentang Zac, Jun dan Momo-san tapi tidak ingat tentang apa. Hanya saja dalam keadaan setengah sadar, emosiku memuncak.

“Moshimoshi?” Sapa Momo-san.

“Apa saja yang perlu kuketahui tentang mereka? Fanmeet, practice, recording, stage, sudah semua kan? Aku mau pulang.” Ujarku cepat dengan nada kasar.

“Loh?? Kenapa? Memangnya tidak enak disana? Ada masalah dengan Vagels?” Tanya Momo-san khawatir.

“Nggak, aku cuma ingin pulang aja.” Jawabku dengan nada yang lebih lembut tapi malah terdengar seperti putus asa.

“Jangan, disini sedang sangat kacau. Pulang pun hanya membuatmu jadi berita saja. Diamlah dulu disana oke?” Ujar Momo-san memberikan alasan. Aku tau ia berusaha menenangkanku tapi aku yang begitu keras kepala langsung mematikan handphoneku.

Aku beranjak ke kamar mandi untuk berendam. Lumayanlah untuk mendinginkan kepalaku. Saat berendam aku menyanyikan lagu-lagu yang kuingat. Lalu rasanya begitu hening. Aku pun berhenti menyanyi. Kepalaku terasa berat dan aku tertidur dengan nyaman.

_BYARR_

Aku terbangun dengan kaget. Aku menoleh ke sekelilingku, ada seseorang berdiri di depan kaca kamar mandi. Seorang pria, si ketua kelas. Aku menatapnya tidak percaya.

“Rae…” Ia menyebutkan namaku. Ia terlihat begitu sedih dan hampir menangis. Melihatnya, aku merasa tubuhku kaku. Perasaanku menjadi aneh.

Ia mendekatiku dan membisikan sesuatu lagi di telingaku. Aku tidak ingat apa yang ia bisikan tapi aku menangis. Aku berteriak dengan kencang lalu kali ini, aku betul-betul membuka mataku. Rasa dingin menusuk kulitku. Aku tertidur di bak mandi, tapi bak itu kosong. Entah bagaimana, penutup lubang saluran air terbuka.

Aku tidak memperhatikan kejanggalan itu, menurutku aku hanya sangat sangat beruntung karena bisa secara tidak sengaja menendang penutup saluran itu. Aku tidak ingin berfikir lebih dari itu. Yang kutau, aku kedinginan dan aku memimpikannya lagi.

Aku menyesal karena masih tak bisa mengingat nama maupun apa yang ia katakan hingga aku menangis. Aku segera berpakaian dan memesan makanan dan obat flu. Aku pasti akan sakit, aku sudah merasa tidak enak badan. Saat bangun pagi itu jam 10.00 dan aku terbangun pukul 08.00 malam. Lama sekali aku tertidur.

Setelah makan dan minum obat aku menonton TV sambil duduk di ranjang. Setelah merasa mengantuk akibat obat itu, aku mengecilkan volume TV tapi tidak mematikannya dan tidur. Sepertinya aku mulai menjadi kebo.

Yang kupercaya adalah kalau sakit flu, minumlah obat dan tidur. Setelah bangun kau akan baik-baik saja. Tapi kenapa aku tidak merasa lebih baik saat bangun? Aku mengecek jam. 05.00 pagi. Harusnya aku sudah sembuh.

Aku menyerah lalu memutuskan untuk main game saja. Sebuah kegiatan yang sudah lama tidak kulakukan karena lebih sering menulis di waktu luang. Tapi aku menikmati game itu sampai akhirnya mengantuk lagi. Jadi akupun kembali tidur.

Saat aku terbangun aku melihat Jun kali ini. Ia sedang duduk di sofa. Ekspresinya seakan kaget aku bangun. Aku pun duduk di ranjang, Rasanya badanku basah semua

“Member lainnya sedang keluar sebentar.” Ucap Jun tiba-tiba. Aku mengangguk-angguk beberapa kali. Kenyataan dia datang di mimpiku saja membuatku merasa aneh.

Aku berjalan ke dapur lalu mengambil minum karena leherku terasa sakit. Saat aku kembali keluar aku melihat member lainnya memasuki kamarku.

Pelan-pelan aku menaruh gelas di meja disamping ranjang dan mengabaikan salam mereka. Aku mencubit tanganku keras-keras. Rasanya sakit sekali.

“Rae-ssi! What happened?” Tanya Raven kaget. Aku menggeleng cepat-cepat.

“Sepertinya ia pikir dia seang bermimpi. Hahahahha.” Tebak Zac dengan cepat. Aku hanya nyengir dan mengangguk.

“Habisnya waktu aku bangun tiba-tiba ada Jun di depanku.” Tunjukku pada Jun sambil membela diri.

“Jadi dia seperti mimpi bagimu?” Tanya Lee lalu mendekati Jun dan menyentuh pipi pria itu sambil tersenyum. Aku hanya bisa tertawa.

“Okay, jadi kenapa kalian ada disini?” Tanyaku serius setelah kita semua berkumpul di sofa dan aku berganti baju.

“Kita pikir hari ini noona tidak ke tempat kami karena marah. Padahal hari ini kami freetime dan rencananya kita ingin jalan-jalan.” Jawab Shin duluan. Seingatku baru kali ini ia betul-betul bicara denganku.

“Noona?” Aku kaget, memangnya aku tampak setua itu bagi mereka? Umurku hanya 26 kok.

“Aku 25” Tunjuk Zac pada dirinya sendiri. “Dan aku yang paling tua.” Lanjutnya dengan ekspresi yang mengasihaniku.

“Kalian terlihat tua.” Aku memandang mereka seakan menuduh. Sekilas sebelum memalingkan wajah, Jun tersenyum. Sekilas saja, tapi aku langsung mengubah ekspresiku.

“Marah kenapa?” Tanyaku mengubah topik. Walaupun jawabannya kira-kira karena Jun aku tetap menanyakannya.

“Tidak sih, itu hanya alasan saja.” Jawab Zac dan Keito hampir berbarengan. Mereka memberikan senyum yang meyakinkan. Aku tersenyum.

“Jadi, ayo kita berangkat. Kita hanya punya libur empat hari setahun. Kita tidak bisa menyia-nyiakannya kan?” Ajak Lee dengan cepat.

Setelah mengganti bajuku dengan blus putih, celana pendek salem, legging hitam semata kaki, dan ankle boots cokelat, kami pergi dengan seluruh crew mereka ke sebuah tempat wisata.

“Ayo kita coba bungee jumping!” Teriak salah seorang yang tidak kukenal. Setengah setuju dan setengahnya tidak. Tapi akhirnya kami ke tempat bungee jumping duluan.

Diatas udaranya terasa dingin. Aku melihat kebawah, kalau jatuh dari sini pasti meninggalkan? Hahaha.

“Siapa ingin duluan?” Tanya sang pembimbing. Karena tidak ada yang mau duluan aku memberanikan diri untuk turun duluan. Aku melihat kebawah, air laut, pasir, dan batu karang.

“Yak, siap.” Ucap si pembimbing. Aku mengangguk dan melompat turun dengan cepat. Saat terjatuh selama sekian detik aku merasa lepas. Tapi lalu aku naik dan turun lagi. Tanpa teriakan atau jeritan aku hanya menikmati angin.

Saat itu, saat aku jatuh, ada sedikit harapan bahwa taliku putus atau lepas. Sedikit saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s