Jun….

Akhirnya kami semua sampai di gedung practice vagels. Hari itu kami sangat bersenang-senang. Mulai dari bungee jumping, sampai hanya sesimpel berjalan-jalan di pinggir pantai lalu acara minum-minum yang tidak diikuti para Vagels dan aku.

“Malam ini kami pulang ke ******” ucap Lee sambil merangkul Raven. Ternyata mereka tinggal di daerah yang sama.

“Aku ingin ke rumah saja, rumah ku di Seoul.” Timpal Zac sendirian.

“Aku akan ke *****!! Woohh!” Teriak Shin menyebut salah satu tempat tidak baik tapi lalu mendapat jitakan dari Keito.

Kita bercanda beberapa saat sebelum akhirnya mulai larut malam dan kami memutuskan untuk pulang saja.

“Jun, antar Rae-ssi ke apartmentnya ya? Kunci manajer ada di kamu kan?” Perintah Zac sambil meninggalkan kami duluan.

“Waahh… Kau tidak ingin protes?” Tanya ku sambil memprovokasi Jun. Tadi saat kami mengobrol Jun sempat berbicara, tapi tak banyak.

“Tidak apa apa. Ayo pulang.” Ajaknya dengan suaranya yang lembut dan pelan sambil ikut berjalan keluar. Entah keberanian darimana, aku menahan tangannya.

“Apa?” Tanya Jun sambil berbalik kearahku. Tiba-tiba aku sendiri bingung mau berkata apa. Lalu aku memberanikan diri.

“Apa kamu membenciku?” Tanyaku langsung. Ia berkedip-kedip beberapa kali sebelum menggeleng.

“Bukan begitu, aku hanya tidak terbiasa.” Ucapnya pelan dan tidak jelas. Aku melepaskan tangannya dengan enggan.

Jun masuk ke mobil duluan dan aku mengikutinya. Ia menyalakan mesin dan AC. Aku hanya memandang keluar jendela. Keheningan seperti ini seringkali kurasakan. Namun entahlah, aku tidak menyukainya.

“Noona seorang penulis kan?” Tanya Jun tiba-tiba.

“Iya.” Jawabku singkat karena tidak tau harus membalas apa.

“Apa yang akan noona tulis tentang kami?” Tanyanya lagi.

“Aku menulis novel, aku berimajinasi tentang seorang pria dan wanita. Mereka akan jatuh cinta dan sebagainya.” Jawabku berusaha mengusir kecanggunggan.

“Hoohh.. Jadi untuk apa noona mengobservasi kami?” Tanyanya kali ini menoleh ke arahku dengan ekspresi bingung. Aku tertawa kecil.

“Aku tidak tau apa yang harus kutulis tentang si pria, jadi manajerku mengirimku ke sini dan mengobservasi kalian.” Jawabku ringan. Mungkin ia tak segalak itu. Jun terlihat lucu juga saat menyebutkan noona dan menatapku dengan ekspresi bingung.

“Penulis juga punya manajer?” Tanyanya lagi. Ia mulai terlihat seperti anak kecil sekarang.

“Bukan manajer juga sih, semacam editor tapi mengurusku juga.” Jawabku.

Ia banyak bertanya, menanyakan pendapat dan sesekali memintaku berbahasa Jepang. Aku tak menyangka bahwa ia ternyata cerewet sekali. Seperti anak kecil malah. Ia mengingatkanku pada Hyeon dan Mai.

Sampai di depan hotel. Ia menurunkanku di depan lobby, tempat drop-off.

“Bye-bye Jun.” Aku melambai sambil tersenyum padanya. Ia juga melambai dan tersenyum.

“Bye Rae, jangan tidur terlalu malam.” Ucapnya sambil berlalu pergi. Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengerutkan kening. Anak itu berani memanggilku tanpa noona? Yaa! Berani sekali dia!

Aku berjalan ke kamarku sambil menggeleng-geleng. Saat aku memasukan kode di pintu terlintas di benakku. “Bagaimana mereka bisa masuk?”

Aku bertekad untuk menanyakan hal itu besok. Malam ini aku harus menyelesaikan Chapter 2 dan 3 novelku. Berarti 5000-15000 kata. Aku berpikir sejenak, mampukah aku melakukannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s