Hye Jin..

Aku terbangun diatas ranjangku dengan catatan kecil tertinggal di meja disamping ranjang. Ditulis dengan hangeul kecil-kecil dan rapi.

“Maaf aku tertidur tadi malam, aku sudah berangkat ke JL. Hari ini kami sangat sibuk, tidak usah datang. Kamu akan bosan. Arigatou Rae-chan.” Tulis Jun. Kalimat terakhir ditulisnya dengan alfabet.

Hal kedua yang kulakukan setelah bangun adalah mengecek handphoneku. Ada dua pesan, Hye Jin dan Momo-san.

“Kapan kembali ke Japan? Aku ingin membicarakan masalah ini. Aku punya rencana.” Dari Hye Jin. Aku membalasnya dengan tanggal kepulanganku lalu membuka sms Momo-san.

“Aku memberitau Hye Jin kamu di Korea. Tenangkan dirimu dan berfikirlah dengan jernih. Miss you.” Tulis editor kesayanganku itu. Aku membalas sms-nya dengan jawaban iya dan miss you too.

Setelah menimbang-nimbang sebentar aku akhirnya mengirim sms pada Hyeon.

“Hyeon-chan, kamu dirumah Mai kan? Jangan kembali ke rumah sebelum aku pulang. Jangan lupa kuliah hanya karena masalah ini. Jaga dirimu baik-baik, aku akan segera pulang.” Tulisku lalu menekan tombol send.
11.45

Aku membeli beberapa snack khas Korea dan juga kain bercorak Korea. Snack untuk Momo-san, kain untuk Hyeon dan Mai. Setelah itu aku kembali ke hotel.

Di Lobby banyak sekali orang-orang yang berkumpul. Setelah menaruh mobil di basement aku berusaha naik ke lift. Aku diijinkan masuk ke lift setelah menunjukkan kartu kamar hotelku.

Aku masuk dan menemukan pria berkacamata hitam dan berpakaian layaknya model duduk di sofa. Hye Jin.

“Apa?” Tanyaku padanya.

“Terlalu lama menunggumu kembali ke Jepang.” Jawab pria itu sambil menaruh kacamatanya di meja kecil.

Aku menaruh barang-barang yang kubeli disamping koperku dan duduk di atas ranjang, sengaja menjauhinya.

“Jadi, bagaimana caramu untuk menghapuskan berita ini?” Tanyaku.

“Kita berpura-pura pacaran. Lalu katakanlah kau cemburu pada kehidupanku sebagai model dan kita break up.” Jawabnya lancar.

“What? Nggak! Memangnya aku cemburuan apa? Gimana kalau kamu selingkuh dengan salah satu model lalu aku marah dan kita break?” Aku jelas tidak akan setuju pada ide bahwa aku cemburu.

“Aku tidak pernah selingkuh!” Ucap Hye Jin.

“Aku tidak akan cemburu dengan alasan seperti itu!” Balasku menantang.

“Baiklah. Kalau gitu aku terlalu sibuk dengan perkerjaanku, kau juga sibuk dengan bukumu, lalu kita bisa berpisah dengan alasan terlalu sibuk. Gimana?” Tanyanya memberi solusi yang lebih baik.

“Ok.” Ucapku setuju.

“Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar? Aku meluangkan waktu untuk datang kesini, luangkanlah waktu denganku.” Perintah Hye Jin acuh tak acuh.

Aku menghembuskan nafas dan mengangguk. “Baiklah, ayo turun.” Ajakku sambil berjalan ke pintu. Ia bangun dan mengikutiku.

“Ok babe, let’s do this.” Ucapnya dengan aksen english yang lumayan.

“Babe? Uhh.. Jangan aneh-aneh deh.” Ucapku sambil membuka pintu dan berjalan duluan ke lift. Tepat sekali saat itu lift terbuka, seorang pria keluar dari sana sambil memandangi kami. Aku cepat-cepat masuk lift, tangan Hye Jin menahan tanganku.

“Kamu jalan terlalu cepat, tunggulah aku.” Ucap pria itu dengan senyum aktingnya. Mungkin untuk pria yang masih memandangi kami dari jauh.

Aku memalingkan wajah dan melepaskan tangannya. Hanya satu orang Korea, lagipula ekspresinya seakan mengejekku. Aku masuk ke dalam lift dan memencet tombol turun.

“Rae-chan, kamu marah karena aku kesini?” Tanya pria itu lembut. Aku menggeleng, tapi menatap ke arah lain.

“Kamu ngambek?” Tanya Hye Jin lagi. Aku menggeleng.

Sebuah kecupan mendarat di pipiku. Lembut dan hangat, hatiku bergejolak dibuatnya. Aku menatap Hye Jin sengit.

“Apa-apaan sih!” Bentakku sambil mendorongnya. Aku bisa merasakan pipiku memanas dan wajahku memerah. Tapi aku tetap menatapnya kesal.

“Kamu tidak ingin melihatku.” Pria itu masih tersenyum. Tapi kesedihan tampak jelas di matanya. Dasar aktor! Aku sedikit tidak tega tapi memalingkan wajah juga. Ia lalu terdiam. Marah betulan kah ia sekarang?

“Aku tidak marah karena kamu ke Korea.” Ucapku pelan seiring dengan dibukanya lift. Awalnya tidak ada yang menyadari, namun mereka mengambil beberapa foto. Hye Jin menarik tanganku dan brgerak cepat keluar lobby. Untung banyak satpam yang membantu.

Sebuah mobil hitam terparkir di depan lobby. Hye Jin membukakan pintu untukku dan segera masuk setelah aku masuk.

“Kamu penulis novelkan? Pikirkanlah sebuah skenario, apa saja.” Ucapnya pelan sambil memandang keluar jendela. Nadanya sedikit memaksa membuatku kesal dan pura-pura tidak mendengar.

Kami tidak kemana-mana, hanya mengitari Seoul dalam diam. Kadang-kadang ia mengomel karena macet.

Satu jam, dua jam, aku mulai merasa pengap di dalam mobil.

“Kamu mau kemana sih?” Tanyaku sedikit kesal.

“Sepuluh menit lagi.” Jawabnya sambil tersenyum kecil keluar jendela.

Senyumnya seakan meledekku, apalagi yang ia pikirkan? Skenario lain lagi? Aku hanya menatap langit dan sekitar kami. Pemandangannya seakan kami menjauhi Seoul. Korea adalah tempat yang indah.

“Korea, menakjubkan ya? Indah sekali.” Gumam Hye Jin pelan.

Kami akhirnya sampai di sebuah taman yang sangat luas. Beberapa bangunan kecil menghiasi taman itu.

“Kita dimana?” Tanyaku.

“Di rumah temanku.” Ucapnya sambil tersenyum ke luar. Tak berapa lama kami sampai di depan sebuah rumah kecil berkaca transparan. Rumah itu berwarna putih gading dan aku bisa melihat isi seluruh lantai satu. Semua perabotannya juga berwarna putih. Hye Jin lekas turun.

Aku memandang kesekelilingku dengan kagum. Tempat ini sangat indah dengan banyaknya bunga-bunga yang ditanam. Pohon-pohonna juga menjulang tinggi. Selain rumah ini ada beberapa rumah lain yang berjauhan. Yang terdekat seperti rumah kaca. Yang berada di ujung terbuat dari kayu sehngga aku tidak tau apa isinya.

Hye Jin sudah berjalan masuk, jadi aku tidak bisa lama-lama. Akupun mengikutinya masuk dan duduk di sofa. Beberapa detik setelah duduk aku merasakan handphone- ku bergetar, tanda ada sms yang masuk.

“Apa yang terjadi dengan Hye Jin? Besok aku akan berangkat jam 11 di XX airport.” Dari Jun.

Aku tersenyum, aku bahkan belum memberitau Momo-san, tapi sepertinya ia sudah lebih tau duluan. Tapi aku tidak keberatan memberitahunya.

Lalu Hye Jin tiba-tiba menarik handphoneku. Aku mencoba menggapai, tapi terlambat.

“Yaa! Kembalikan!” Ujarku dengan kesal.

“Hmm.. Apa yang membuatmu tersenyum sih?” Tanyanya dengan nada bercanda. Ia membaca handphone-ku. Aku bertanya-tanya apa ia bisa bahasa Korea.

“Tidak ada urusannya denganmu.” Bentakku sambil berusaha menarik handphone itu dari tangannya. Tapi dengan tingginya yang diatas 180cm aku tidak bisa menggapai tangannya.

“Memangnya kau tadi dengar aku bicara apa?” Tanyanya masih tersenyum. Aku yang memang tidak mendengar hanya bisa diam.

“Nah tidak dengar kan? Yang lebih muda seperti-mu harusnya mendengarkan yang lebih tua.” Ledeknya lalu mengembalikan handphoneku.

“Baiklah, tadi memangnya kau bicara apa?” Aku mengalah dan kembali duduk di sofa, mengamankan handphoneku.

“Nanti malam akan ada acara di dekat sini dan itu semacam acara keluargaku. Ini masih jam tiga, kau bersiap-siaplah.” Ucapnya mengulangi perkataannya sebelumnya.

“Selamat siang.” Seorang wanita dengan rambut pirang yang dikuncir kesamping muncul dari atas. Wanita itu tampak cantik walaupun gayanya sederhana dan ia sudah terlihat tua.

“Saya stylist anda. Mari saya bantu bersiap-siap.” Ucap wanita berdarah Belanda (tebakanku) itu.

Aku menatap Hye Jin kurang yakin lalu beranjak ke atas juga. Ia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Baru saja kupikir untuk berhenti ngambek karena ia tiba-tiba datang ke Korea, ia sudah memberiku tugas aneh lagi.

Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Rachelline atau Chelli. Setelah aku mandi ( dan membalas sms Jun ) dan berganti baju, ia menyuruhku memakai ini itu ( body lotion, minyak zaitun, dan sebagainya. ) lalu memakaikan make-up setelah itu mengatur rambutku.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s