Mood Changing

Aku kembali menstalk mereka lagi hari ini. Mereka akan melakukan photo shoot untuk album mereka yang terbaru. Dimulai dari Lee yang sepertinya sangat digemari setiap gadis di tempat itu. Senyumnya memang manis sih.

Selanjutnya Jun yang rambutnya sudah diubah. Tetap saja aku lebih suka yang dulu, tapi ia sangat keren. Tidak ada yang ingin terlalu dekat dengannya, hanya berani memandang dari jauh saja. Memangnya ia semenakutkan itu ya? Ia menyadari aku memandanginya dan menatapku. Aku tersenyum dan kembali memperhatikan Zac.

Zac terlihat ceria dan ia banyak senyum. Kami sempat bertemu pandang dan ia melambai padaku. Aku yang kaget hanya menunduk. Aku bahkan tidak yakin ia melambai padaku atau pada kamera karena aku berdiri di belakang kamera.

“Rae-ssi!” Panggil seorang gadis dari jauh. Ia terlihat sangat senang.

“Ya?” Aku dengan cepat berbalik kepadanya. Ia mengeluarkan sebuah buku dan bolpoin. Rupanya fansku, ia membaca buku bahasa Jepang? Aneh sekali, kukira bukuku tidak akan sampai ke Korea.

“Bisa minta tanda tanganmu tidak? Aku sangat-sangat menyukai karyamu!” Ucap gadis itu dalam bahasa Jepang yang fasih. Ternyata ia orang Jepang. Ia menceritakan bagaimana kakaknya mengiriminya bukuku.

Aku tersenyum padanya dan menandatangani buku itu dan mengembalikannya. Kami mengobrol selama beberapa saat. Ia bahkan sempat bercerita bagaimana kakaknya yang juga membaca bukuku sangat menyukai “Rotten, Yet Beautiful” dan bisa dibilang itu percakapan yang panjang.

Saat gadis itu pergi, kegiatan photo shoot sudah selesai. Aku mengikuti mereka ke gedung practice lagi. Mereka berlatih tanpa henti. Rasanya kasihan juga melihat mereka yang berkeringat tapi masih tidak berhenti. Aku menghampiri manajer mereka.

“Apa mereka selalu seperti ini setiap hari?” Tanyaku.

“Tidak, kadang mereka ke gym. Menjadi idol memang sangat sulit. Menjadi boneka untuk menyenangkan orang lain. Puppet.” Ucap manajernya sambil terkekeh, menertawakan mereka. Aku hanya mengangkat bahu.

Setelah mereka selesai aku bertepuk tangan dan tersenyum. “Kalian menakjubkan.” Ucapku memberi semangat. Aku tidak tau kalau menjadi idol sesusah itu. Mereka membalas senyumku. Bahkan Jun juga, walaupun ia langsung menutupinya. Selama mereka beristirahat aku pamit pulang karena sehabis ini mereka akan syuting dan aku tidak berniat menganggu sejauh itu.

Sampai di hotel aku berhasil menyelesaikan chapter pertama pada novelku. Semua berjalan dengan baik dan lancar kecuali masalah pribadiku.

Di Jepang, gosip itu merambat naik lagi akibat rumahku kedatangan manajer Shim Hye Jin. Kata Hyeon wartawan mulai berdatangan tapi Hyeon berhasil meyakini bahwa aku tidak ada dirumah sebelum ia akhirnya pergi ke rumah Mai-chan.

Aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu jadi lupakan saja. Aku punya dua minggu lebih untuk tidak memikirkan Hye Jin yang sepertinya terus-terusan mengganggu ku secara tidak langsung. Yah baiklah, aku yakin ia bukannya sengaja melakukannya.

Berganti topik, novelku berjalan dengan sangat baik. Aku sudah mengirim chapter pertama pada Momo-san dan ia bilang bagus. Seperti biasa, mungkin semua rencananya selalu berhasil. Aku bersyukur memiliki editor sebaik Momo-san.

Malam itu aku menelepon ke London, sebuah kegiatan yang harusnya kulakukan setiap bulan. Tapi aku lebih sering lupa dan melakukannya dua kali di bula berikutnya.

“Rae!” Sapa kakakku yang pertama, ibu Hyeon.

“Eonni! Sedang apa?” Tanyaku.

“Kami sedang menonton TV bersama, kemarin Won membelikan kaset film **** untuk kami. Bagaimana kabar Hyeon? Eh tunggu sebentar.” Jawab Kang Cha Ra atau lebih sering dipanggil Caca. Aku bisa mendengar eonni meneriakan namaku. Mungkin ia mengabari kalau aku menelepon.

“RAE!!! KEMANA AJA KAMU!” Teriak kakaknya yang kedua, sudah puya anak tapi masih kecil sekali. Kang Baek Won atau Won.

“Won hyung!” Ejekku dengan suara yang diberatkan. Dulu aku sering berpura-pura menjadi adik laki-laki Won oppa.

“Bicaralah dengan mama dulu sana.” Ucap Won oppa sambil tertawa.

“Omma.” Panggilku pelan.

“Rae..? Mama senang kamu telepon. Mama udah liat buku kamu yang baru, gimana kabarnya sekarang?” Tanya mamanya lembut.

“Baik Ma, couldn’t be better. Mama gimana? Batuknya udah sembuh Ma?” Tanyaku.

“Udah. Rae udah punya pacar belom?” Tanya mamanya lagi, mulai menginterogasi dirinya.

“Belum Ma, kalau jodoh pasti ketemu kok.” Aku tersenyum walaupun tau mama tidak bisa melihatnya.

“Yasudah, mengobrolah sama kakak-kakakmu.” Ada nada kecewa dalam suara mama-nya tapi Rae pun tak bisa berbuat apa-apa.

“Aku duluan Noona!” Paksa Won oppa kemungkinan sambil merebut gagang telepon dari eonni.

“Hei adik kecil, kau terlalu mencintai oppa-mu ini kan sampai tak bisa mencintai pria lain? Aku tau aku memang sangat keren, tapi aku sudah punya istri tau.” Ucap Won oppa sambil bercanda. Aku tertawa.

“Cepatlah cari laki-laki yang baik, aku ingin melihat seorang keponakan yang kece tau. Aku ingin sekali.” Lanjutnya tanpa memberiku jeda untuk membalas. Kali ini ia menggunakan ada memelas yang lebay. Aku pun tertawa lagi.

“Iya oppa, aku akan pulang membawa calonku.” Jawabku di sela-sela tawa.

“Sering-seringlah telepon oke? Kau tau kami tidak mungkin mengganggu kerjamu, karena itu kau harus lebih sering menelepon kami kalau sedang tidak sibuk.” Paksanya lagi, kali ini ia serius.

Aku mengangguk-angguk sambil mengiyakan. Gagang berpindah pada eonni.  Kakak perempuanku lebih kalem dan tidak secerewet Won oppa. Tapi kelembutannya malah kadang membuatku canggung. Selama beberapa detik tidak ada suara disana. Hingga akhirnya aku membuka mulut duluan.

“Eonni, gimana kabar mama?” Tanyaku.

“Mama baik, batuknya sembuh total dan gulanya juga sudah normal.” Balasnya.

“Eonni, ada banyak yang ingin kuceritakan sebetulnya. Bagaimana kalau aku kirim email saja?” Tanyaku berusaha mengusir kecanggunggan ini. Setelah eonni setuju aku mengetik di laptopku tentang semua hal yang terjadi padaku belakangan ini. Semuanya tanpa terkecuali. Selesai mengirimkannya aku menutup laptop itu dan berusaha tidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s