Drunk

Seminggu setelah insiden Hye Jin kerumahku berita mulai kembali normal. Hanya saja desas desus masih ada. Aku sudah jarang menonton berita dan fokus pada naskah novelku yang selanjutnya. Kali ini aku berniat menulis novel 120.000 kata. Atau dua kalinya novelku yang biasa. The Wheelchair, novelku yang sebelumnya menjadi hits. Tapi tidak sampai best seller. Huft…

Aku berjalan ke kamarku, hari ini aku dan Hyeon berencana membeli supply makanan yang sudah habis sejak kemarin. Setelah berganti baju aku turun. Hyeon sudah siap lebih dulu.

“Ayo berangkat! Hari ini aku mengajak Mai-chan.” Ujar Hyeon senang.

Aku menggangguk dan mengambil kunci mobil. Setelah itu kami melesat ke sebuah supermarket yang berada di dalam mall. Aku sengaja memilih mall ini agar Hyeon dan Mai bisa berjalan-jalan dan aku bisa nongkrong di cafe. Pikiranku kok mulai seperti ibu-ibu saja ya lama-lama.

“Hyeon-chan, kamu mau masak apa saja?” Tanyaku pada koki rumah kami aka Hyeon.

“Apa ya..? Aku biasanya masak sesuai kulkas saja sih. Yang jelas kita kekurangan sayur-sayuran, daging, dan bumbunya sudah sedikit semua.” Jawab Hyeon panjang lebar.

“Aku cari sayuran, kamu cari daging dengan Mai-chan ya? Kalau sudah selesai duluan kita berkumpul di cafe S. Nanti telepon saja.” Perintahku pada Hyeon yang langsung mengangguk. Kami berpencar.

Satu jam kemudian aku berhasil menemukan semua yang kira-kira aku suka atau pernah kumakan. Setelah membayar di kasir aku berjalan duluan ke cafe S sambil menggetik pesan untuk Hyeon, “Aku ke cafe S duluan ya. Kalau sudah selesai datanglah.” Ketikku lalu mengirim sms itu.

Aku duduk di cafe S dan memesan segelas juice dan kue buahnya yang terkenal enak. Tapi setelah mereka disajikan aku merasa tidak mood untuk makan. Sepuluh menit kemudian Hyeon dan Mai datang.

“Banyak sekali!” Komentarku melihat barang bawaan mereka yang memang banyak.

“Iya hehe..” Balas Hyeon sambil membentuk tanda peace di tangannya.

“Kalian duduklah sebentar, nanti kita pindahin ini ke mobil terus kalian bisa jalan-jalan disini atau dimana aja asalkan ga mabuk.” Candaku sekaligus mengacam.

“Kalian? Ikut dong Rae-san.” Pinta Mai memohon.

“Hoohh… Aku lebih suka dirumah.” Tolakku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menggeser piring kue itu kedepan Hyeon.

“Ayolah, Nee-chan selalu dirumah seperti ibu-ibu padahal kan tidak setua itu.” Ucap Hyeon.

“Umurku harusnya sudah menggendong satu anak.” Balasku.

“Bukannya baru 26 tahun? Masih muda kok!” Balas Mai lagi.

“Sstt.. Sudahlah, ayo bantu aku membawa barang-barang ini ke mobil.” Ucapku sambil berdiri dan mengangkat beberapa barang. Sepanjang perjalanan turun Hyeon terus-terus memaksaku tapi aku tetap keras kepala. Dan mengatakan tidak. Sampai akhirnya aku sampai di mobil.

“Byebye.” Ucapku sambil melambaikan tangan.

Aku melesat ke pulang. Sampai dirumah niatku untuk menulis hilang. Belakangan aku sangat terbebani dengan masalah statusku yang masih single. Mungkinkah aku harus jadi biarawati saja? Uhhh…..

Aku lalu berjalan ke dapur dan mengambil sebotol wine. Untung Hyeon menurutiku untuk tidak menyentuh wine ini. Aku mengambil gelas dan menuang wine itu sambil duduk di meja makan.

Sambil meminum wine itu pikiranku melayang pada sang ketua kelas lagi. “Aku ingin bertemu..” Ucapku tanpa sadar. Dua puluh menit kemudian aku sudah menghabiskan sebotol wine. Setelah menyadari wineku sudah habis aku berjalan ke kamarku.

Kenapa terasa panas ya? Aku membuka jendela besar kesayanganku. Angin segar berhembus ke arahku. Aku seperti biasa duduk di jendela itu. Waktu itu mungkin juga seperti ini. Si ketua kelas menatap langit yang begitu cerah. Aku tersenyum dan memandang langit sore di depanku.

Entah berapa lama aku memandang langit yang kelamaan berubah menjadi jingga. Pikiranku melayang ke masa-masa SMA dulu. Bayangan memoriku seakan menari-nari di langit. Kurasa aku memang mabuk.

Ah itu dia Bianca, aku dan Geu Jun. Waktu itu aku begitu menyukai Geu Jun. Walaupun aku tau Geu Jun menyukai Bianca, dan Bianca menahan perasaannya karena aku. Waktu itu aku menangis di perpustakaan. Bukan karena mereka bertunangan, mungkin karena aku sudah tau sejak awal. Selain mereka saling menyukai orang tua mereka pun dekat. Jadi kenapa aku menangis?

Tiba-tiba di pikiranku terlintas sebuah pertanyaan. Untuk apa aku hidup? Aku terdiam. Untuk apa aku hidup? Aku hidup berkecukupan, hidupku tenang dan damai, setiap hari rutinitasku bisa kujalankan dengan baik. Aku menatap kebawah jendela. Ah kalau aku melompat dari sini sih tidak akan mati, tapi patah semua tulangku. Loh, siapa yang mau mati? Aku sepertinya betul-betul mab–

“Nee-chan!!!” Teriak Hyeon sambil memelukku dari belakang.

“Apa sih?!” Tanyaku yang ikutan kaget.

“Eonni ngapain deket-deket jendela??” Tanya Hyeon seperti biasa, membalik-balik antara nee-chan dan eonni. Aku mengerutkan kening.

“Liatin langit lah! Kamu pikir aku mau mati? Enak saja.” Balasku sambil menjitak kepalanya.

“Hah? Tapi habisnya eonni tadi berdiri nya gitu sih.” Balas Hyeon sambil mendelik.

Tak berapa lama kemudian Hyeon keluar dari kamarku. Tinggalah aku yang bertanya-tanya, memangnya aku tadi berdiri? Aku merasa kedinginan dan menutup jendela itu. Setelah mengetik beberapa puluh kata di laptopku aku memutuskan untuk segera tidur saja.

Malam itu mungkin karena masih mabuk, aku memimpikan si ketua kelas. Ia berada di tengah padang gurun tapi memakai baju sekolah waktu itu. Dibelakangnya bulan purnama bersinar terang sekali. Aku berjalan ke arahnya, lama sekali sampai akhirnya aku bisa memeluknya. Ia membalas pelukanku dan membisikkan sebuah kalimat yang tidak bisa kumengerti artinya. Mungkin malah aku tidak mengingat lagi apa yang ia katakan.

Lalu aku terbangun jam tiga pagi. Saat itu aku mencoba mengingat apa yang ia katakan tapi aku sudah terlanjur melupakannya. Aku lalu bangun dan duduk dibalik jendela. Langit malam sudah hampir terang walaupun masih bisa kulihat bulan sabit disana.

Lalu entah jam berapa, aku kembali tertidur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s