Mana Manajermu?

Seminggu setelah kejadian sore itu sebuah paket sampai ke rumahku. Isinya handphoneku yang baru dan kartu permintaan maaf dan terimakasih. Aku menghargai hal tersebut.

Kriing Kriing.

Aku segera mengangkat telepon yang membangunkanku dari lamunanku. “Moshi moshi?”

“Rae-san, novelmu bagaimana? Bulan depan sudah harus di edit kan? Hari ini aku datang ya?” Ucap Momo-san cepat.

“Iya iya.” Jawabku sambil mengangguk-angguk walaupun aku tau Momo-san tidak bisa melihat anggukanku.

“Ok.” Sambungan segera terputus.

Aku beranjak dari sofa dan segera ke kamarku. Aku mencari-cari laptopku. Tapi kemana ya benda itu. Terlintas di benakku bahwa kemarin Hyeon meminjam laptopku. Aku menghampirinya di kamarnya.

“Hyeon-chan, liat laptopku tidak?” Tanyanya pada gadis yang sedang asik di depan kaca. Saat mendengarku Hyeon berbalik dan mengangguk. “Ah iya, aku lupa mengembalikannya.” Ucap gadis itu lalu mengambil laptop dari meja belajarnya dan memberikannya padaku.

“Nee-chan, aku sudah bilang mama aku tinggal disini.” Ujar Hyeon sebelum aku menutup pintu.

“Eonni bilang apa?” Tanyaku asal.

“Katanya, jangan menyusahkan Rae.” Ucap Hyeon sambil tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya lalu keluar dengan laptopku.

Sepanjang hari aku terus mengetik. Kalau tidak diingatkan Hyeon mungkin aku tidak akan makan.

“Eonni, ayo makan.” Panggil Hyeon dari dapur.

Sejak Hyeon tinggal dirumahnya tempat ini menjadi lebih baik. Hyeon bertanggung jawab atas memasak dan membersihkan rumah. Sementara aku berkerja dan menyuplai kebutuhan kita. Seminggu pun berlalu dengan baik.

Aku berjalan ke ruang makan. Hyeon sudah menungguku disana. “Nee-chan, gimana dengan Leon oppa?” Tanya Hyeon sudah ketiga kalinya minggu ini.

“Kau ini, semenit yang lalu panggil eonni, kemudian panggil nee-chan, nanti manggilnya oba-san?” Ujarku menghindari topik Leon dan mencoba bercanda.

“Jangan mengalihkan pembicaraan dong! Ayolah eonni, ceritakan lebih banyak entang Leon oppa. Dia juga orang Korea loh.” Ujar Hyeon bersemangat.

“Aku tidak tau banyak tentangnya. Ia hanya terasa familiar disaat-saat tertentu.” Jawabku jujur. Kalau ia sedang tertawa seperti waktu itu aku merasa familiar dengannya. Tapi selain itu biasa saja.

“Yahh… ” Balas Hyeon dengan kening berkerut.

“Gimana kuliahmu?” Tanyaku mengalihkan topik.

“Aku sudah mulai masuk besok. Hehe.” Jawab Hyeon sambil tersenyum.

“Hmm..” balasku sambil mengganguk-angguk.

“Eonni…” Panggil Hyeon saat au tengah melamun.

“Hm? Ya?” Balas ku cepat.

“Nenek khawatir kalau eonni tidak segera menikah.” Ucap Hyeon dengan perasaan tidak enak yang kentara. Mungkn ia dipaksa oleh eonni untuk mengatakan hal ini. Aku hanya tersenyum.

Selesai makan aku segera kembali ke kamarku untuk mengetik lagi. Tulisanku menjadi sedikit kacau. Aku menyerah pada imajinasiku yang tak bisa fokus dan menutup laptopku. Aku memandang ke jendela itu. Malam ini bulan terlihat setengah dan sedikit sekali bintang yang terlihat.

_ping_

Aku mengambil handphoneku dan membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak terdaftar di kontak.

“Hey, sedang sibuk? Aku kesana ya?” Bunyi pesan itu. Aku berfikir sebentar sebelum menjawab, “Hye Jin? Tidak terlalu, Hyeon ingin sekali bertemu denganmu tuh. Haha” Balasku.

Tapi balasan tidak datang lagi, aku hanya mengangkat kedua bahu dan kembali mengetik. Aku mendapat inspirasi dari sms barusan. Sepuluh menit kemudian aku kehabisan ide lagi.

_Ting tong_

Oke, mungkin orang tadi siapapun dia memang berniat datang. Aku berjalan ke ruang tamu walaupun aku tau Hyeon sudah akan membukakan duluan. Benar saja Hyeon sedang duduk di sofa bersama Hye Jin atau Leon itu. Aku memutarkan kedua bola mataku.

“Tuh kan pengirim sms itu kamu.” Ucapku bercanda. Aku segera berjalan ke dapur. “Teh saja ya.” Ucapku tanpa bertanya.

Aku bisa mendengar samar-samar teriakan senang Hyeon. Seharusnya aku mengundang Mai juga, supaya pria itu kewalahan. Aku tertawa pelan memikirkan kejahatanku. Setelah membuat tiga teh aku membawanya ke ruang tamu.

Hyeon sedang berfoto ria bersama Hye Jin. Ia segera mematikan handphonenya ketika aku datang. Dari wajahnya terlihat kegembiraan. Aku hanya tersenyum.

“Jadi ada apa kemari?” tanyaku cepat.

“Bajuku yang minggu lalu, aku melaundrynya dekat sini. Sudah dibalikin belum?” Tanya pria itu.

“Bajumu yang waktu itu? Kayaknya belum deh.” Jawabku setelah berfikir selama beberapa detik.

“Sudah. Ada di kamarku, kemarin aku yang mengambil hehe.” Jawab Hyeon tiba-tiba.

“Ah Hyeon, bukannya bilang sejak tadi.” Omelku padanya. Hyeon hanya nyengir dan bergegas ke kamarnya. Setelah Hyeon pergi kami berdua terdiam.

“Rae-chan seorang penulis kan?” Tanya Hye Jin tiba-tiba. Pria itu tersenyum padanya.

Aku menggangguk. “Iya, masih penulis baru sih.” jawabku.

Setelah itu diam lagi. Hyeon kok lama sekali ya. Aku juga tidak tau apakah harus membuka percakapan atau tidak.

_Kring Kring_ aku segera mengangkat telepon yang memang berada diatas meja di sebelahku.

“Moshimoshi.” Sapaku duluan.

“Selamat malam Kang Rae-san, saya dari Tim Editorial V Company.” Ujar seorang pria.

“Malam, ada apa ya?” Tanyaku pada pria itu. Apa Momo sakit atau bagaimana?

“Hikari Momo jatuh sakit sore ini. Karena itu akan ada yang menggantikan Momo-san dalam pengerjaan editing untuk projek terbaru anda yaitu, The Wheelchair betul?” Ucap pria itu cepat seperti terburu-buru.

“Eh..? Iyasih..” Jawabku pelan, setengah kesal, setengah kaget. Tidak enak kalau tiba-tiba kau harus mengganti editormu kan?

“Baiklah, saya akan mengirim seseorang untuk besok pagi. Terimakasih.” Dan sambungan diputus. Huh, tidak sopan sekali orang itu. Tapi kok rasanya mirip Momo-san ya?

Bertepatan dengan aku mengembalikan telepon itu Hyeon kembali. Ia menenteng kantung plastik laundry dan mengembalikannya pada Hye Jin. Seiring dengan itu Hye Jin pun berdiri, Hyeon tidak jadi duduk dan aku pun ikutan berdiri.

“Baiklah, terimakasih telah menjaga bajuku dan sampai jumpa lagi. Maaf mengganggu malam-malam.” Ucap pria itu sambil berjalan ke depan diikuti Hyeon. Aku hanya tersenyum padanya sambil membalas lambaian tangannya.

Setelah ia pergi aku langsung melesat ke kamarku. Deadline ku menjadi besok pagi. Itu berarti aku harus menyelesaikan naskahku malam ini juga. Jadi sepanjang malam itu aku terus mengetik.  Hanya satu hal yang aku tidak mengerti. Untuk apa Hye Jin datang kesini hanya untuk mengambil baju? bukankah mereka punya manajer untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s