Berita ><

Hari ini aku baru terbangun pukul 12 siang. Ya jelaslah, tadi malam aku tidak tidur sampai jam 5 pagi. Huh. Kata Hyeon tadi pagi memang ada pria yang datang. Tapi setelah mengambil naskah yang sengaja kutitipkan pada Hyeon, pria itu langsung pergi. Bagusdeh.

“Eh iya, Hyeon-chan, bukannya hari ini kamu ke kampus?” Tanyaku teringat percakapan kita kemarin. Ia mengangguk.

“Aku kuliah malam nee-chan.” Jelasnya sambil menonton tv dengan serius. Aku yang penasaran apa yang ia tonton pun duduk disebelahnya.

“Eonni, kalau rumah ini disorot gimana?” Tanya Hyeon tanpa mengalirkan pandangannya dari TV yang menampilkan iklan.

“Disorot gimana maksunya?” Tanyaku.

“Tadi malam, sepertinya ada yang memotret Leon-san lalu beritanya tersebar.” Ucap Hyeon bertepatan dengan mulainya acara berita yang di tontonnya.

Aku hendak bertanya lebih lanjut, tapi Hyeon segera mengencangkan volume tv itu.

“…… Rumah yang dikunjungi Shim Hye Jin atau lebih dikenal dengan Leon dikabari ternyata rumah seseorang yang terkenal juga!” Ucap sang pembawa acara wanita.

“Wah Leon-ssi kalau punya pacar bilang-bilang dong.” Balas pembawa acara yang pria.

Tak berapa lama layar berganti jadi rumahku yang di blur. Dalam video itu Hye Jin baru saja keluar setelah pintu ditutup oleh Hyeon. Tapi wajah Hyeon tidak keliatan. Hye Jin berjalan ke mobilnya lalu tanpa sengaja menjatuhkan kantong berisi bajunya. Kalau aku seorang penonton aku jelas akan mengira Hye Jin berpacaran dengan siapapun nama wanita yang tinggal di rumah itu. Sial. Pertama itu malam hari, kedua dia membawa baju.

Untunglah rumahku mirip sekali dengan rumah di komplek ini karena semua rumah sama. Jadi belum bisa dibuktikan rumah yang mana.

“Eonni… Gimana nih?” Tanya Hyeon khawatir.

“Sudah tidak apa-apa. Selama mereka tidak tau itu rumahku.” Jawabku berusaha tenang padahal aku sendiripun takut.

Aku segera berdiri dan masuk ke kamarku. Cahaya matahari menembus tirai besar di kaca kamarku. Aku duduk di jendela itu. Berharap memang tidak akan ada yang tau. Perbedaan rumahku dengan rumah lainnya hanya terletak di kaca ini. Tapi terletak di lantai dua dan untung saja tidak terlihat kamera.

_ping_

Aku berjalan ke meja kerjaku an mengambil handphone itu sambil berjalan balik ke jendela. Duduk disana memang sangat nyaman. Dari Hye Jin dan ada satu lagi dari Momo-san sejam yang lalu. Aku membuka punya Hye Jin duluan.

“Sudah lihat berita? Maaf jadi melibatkanmu. Aku akan segera meluruskan hal ini.” Bunti pesan itu. Aku hanya membalas “Ok.” Dan membuka pesan Momo-san.

“Rae-chan!! Aku sakit! Maaf ya tidak bisa menyelesaikan ceritamu :C aku menunggu bukunya saja ya ^^)/” bunyi pesan itu. Aku tersenyum dan membalas, “Iya~ tenang saja ^^)b”

Aku melempar handphoneku ke ranjang. Matahari yang tadinya hanya hangat mulai terasa panas di kulitku. Tapi aku tidak bergerak. Pikiranku kembali terkenang ke sang ketua kelas. Senyumnya waktu itu. Tawanya, suaranya, uluran tangannya yang sudah samar dalam ingatanku. Aku hanya mengingat satu hal selama delapan tahun. Yaitu bahwa aku tak ingin melupakannya.

Oke cukup sudah, ada yang lebih penting daripada mengingat masa lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s