Kopi = Muntah

Ting tong..

Aku menatap jam dinding, siapa yang kiranya datang sesore ini? Hyeon bilang ia akan pulang malam karena tadi ku tinggalkan. Aku membuka pintu itu, seseorang yang familiar menatapku.

“Kang Hwa Rae?” Tanya pria berkacamata hitam itu.

Aku hanya mengangguk, aku sudah ingat sekarang. Pria yang tadi siang rupanya. “Shim Hye Jin?” Tanyaku balik.

Pria itu juga mengangguk. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa. “Teh atau kopi?” Tanyaku selayaknya tuan rumah yang baik. Bah. Aku hanya bingung karena sesaat ia hanya menatapku.

“Nanti saja tidak apa-apa.” Jawab pria itu sambil melepas kacamatanya. Ia terlihat lebih baik daripada tadi pagi. Rambutnya yang panjang tersisir rapi. Aku yang sudah berdiri pun kembali duduk.

“Kenapa tidak menelepon saja?” Tanyaku bingung.

“Disini hanya tertulis nomor handphonemu yang rusak bukan?” Tanyanya sambil tersenyum bercanda.

“Oh iya! Aku lupa, yaampun… Maaf.” Ucapku sambil menepuk dahiku.

“Iya, apa perkerjaanmu sudah selesai?” Tanya pria itu lagi sambil terkekeh.

Aku teringat sikap sok sibukku tadi siang. “Soal tadi siang, maaf aku bersikap kasar. Aku tidak begitu menyukai dingin.” Jawabku tidak enak.

“Jangan dipikirkan. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar? Aku tau kedai kopi yang enak.” Tanya Hye Jin lagi kali ini pria itu tersenyum ramah.

Perutku terasa mual, awalnya aku bersedia saja ia datang untuk mengganti handphoneku. Tapi hanya karena ia tampan, bukan berarti aku semurah kopi. Aku memasang senyum.

“Kurasa aku masih terlalu sibuk.” Ucapku seramah mungkin. Ia juga sepertinya menyadari bahwa pilihan katanya salah. Sesaat ia lalu terkekeh.

“Oke, kamu benar-benar unik.” Ucap pria itu sambil tersenyum senang.

Aku tidak membalas dan menatapnya tidak suka. Ia tersenyum tipis. “Aku rasa kau tidak mengenalku. Menarik sekali.” Ucapnya.

Aku mengangkat bahu. “Aku memang tidak mengenalmu. Kalau kamu seorang idol, aku jarang menonton TV. Kalau kamu seorang pengusaha terkenal, aku bukan di bidang bisnis. Kalau kamu politikus, aku benci politik.” jawabku ringan setengah menyindir juga.

Ting tong ting tong

Aku segera berdiri dan membukakan pintu yang jaraknya cukup dekat itu. Hyeon dan Mai tersenyum padanya sambil membawa belanjaan yang segunung. “Nee-chan! Kami membelikanmu banyak barang loh!” Ujar Hyeon dengan wajah berseri-seri.

Mai langsung memelukku dan melepas belanjaannya. Dan saat itu aku menyium bau alkohol. “Rae-sama! Aku sangat mengidolakanmu! Aku sangat mencintai karya-karya mu! Hehehe..” Teriak Mai gembira sambil memeluknya erat.

“Mai-chan! Hyeon! Kalian kenapa bisa mabuk sih. Ck.” Ujarku sambil berusaha melepaskan pelukan Mai. Tapi Mai sendiri sudah melepasnya. Dan membawa masuk belanjaannya. “Aku akan membantu Hyeon-chan! Yeay!” ucap gadis itu riang.

Hyeon juga masuk. “Dan aku akan membawakan punyamu Mai-chan! Yeay yeay yeay!” balas Hyeon sambil tertawa.

Aku mengunci pintu dan masuk ke dalam. “Masih jam enam kok sudah mabuk-mabukan sih?!” Omelku pada kedua gadis itu.

“Kyaa!!!! Leon-sama!!” Hyeon histeris melihat Hye Jin di sofa. Anehnya Hye Jin hanya melambai dan tersenyum. Hyeon melepas semua belanjaannya, begitu juga Mai. Mereka menyerbu pria itu. Sementara aku hanya bisa menganga.

“Hyeon!” bentakku dengan wajah memerah. Mereka terlalu liar! Yaampun, memalukan sekali! Tapi aku jadi berfikir, jangan-jangan Hye Jin ini adalah idol.

“Aku sudah terbiasa kok. Mereka sedang mabuk saja.” Ucap pria itu berusaha menenangkan padahal ia terlihat tidak enak.

“Maafkan mereka ya. Keterlaluan sekali.” Ucapku sambil berusaha menarik Hyeon.

Tak berapa lama Mai dan Hyeon teridur sambil memeluk pria itu. Aku menatap gadis-gadis yang tertidur seperti bayi, padahal seliar kuda. “Maaf, ternyata kau memang idol. Tinggalkan sa…”

Hoeekk…

“Argh! Sh*t!” Teriak pria itu ketika Mai sukses muntah diatas bajunya. Aku butuh waktu sebelum akhirnya menyadari apa yang terjadi. Perutku terasa mual dan aku berbalik.

Setelah beberapa detik aku memberanikan diri dan berbalik. Hye Jin juga masih terlihat shock. Aku mengulurkan tanganku padanya. “Kau ingin bangun..? Mungkin?” Tanyaku pelan.

Dia memegang tanganku dan bangun. Bajunya yang berlendir mulai menetes-netes di lantai. Aku menatapnya jijik sementara ia menatap bajunya kesal. Aku lalu tertawa. Awalnya hanya pelan lalu semakin kencang dan malah terbahak-bahak. Dia pun ikut tersenyum dan tertawa juga.

“Aku tidak akan pernah mengajakmu minum.” Ujar pria itu di sela-sela tawanya.

“Hei, aku tidak separah mereka.” Balasku membela diri sendiri.

Setelah puas tertawa aku mengantarnya ke kamar mandi dan mencarikan handuk bersih untuknya. Aku menaruh handuk itu di atas meja kecil di depan kamar mandi. Setelah itu aku menaruh belanjaan para gadis pemabuk di kamar Hyeon.

“Hei, bisa tolong ambilkan baju gantiku di mobil tidak?” Tanya Hye Jin dari belakangku.

Aku berbalik dan menggangguk. Tapi langsung memalingkan wajahku. Ia hanya memakai celananya saja. Handuknya dibiarkan di lehernya. Aku berusaha melupakan fakta itu dan berjalan kedepan.

“Kuncinya disini.” Ujar pria itu.

Aku berbalik dan menghindari matanya. Hye Jin menggantungkan kunci itu di udara. Aku hendak mengambil kunci itu, tapi ia menarik tangannya. “Kau tidak pernah melihat badan laki-laki?” Tanyanya jail.

“Serius deh, kita mungkin bercanda tadi. Tapi ini bukan hal yang bisa di becandain.” Omelku kesal. Ia hanya terkekeh dan memberikanku kunci mobilnya.

“Iya Hime-sama.” ledeknya.

Aku tidak membalas dan segera mengambil bajunya dari dalam mobil. Karena ada sepasang baju dan celana, jadi kuambil saja dua-duanya. Setelah itu aku kembali ke dalam rumah dan memberikannya baju dan celana itu.

“Arigato.” Ucapnya sambil tersenyum yang kuartikan meledek.

Setelah ia berganti baju di kamar Hyeon ia keluar dengan kemeja hitam lengan pendek dan celana putih selututnya. “Bagaimana dengan kedua anak itu?” tanya Hye Jin sambil menunjuk Mai dan Hyeon. Sebelumnya aku sempat mengelap mulut Mai dengan jijik tapi tidak berani dekat-dekat lagi karena mual.

“Katakan aku jahat, tapi aku tidak akan mengurusi orang mabuk.” Aku mengangkat tanganku dengan wajah yang dibuat serius. Ia tertawa.

“Baiklah, sepertinya kopiku diganti dengan muntah. Tinggal handphone mu saja yang diganti deh.” Ujar pria itu dengan ekspresi tidak kalah serius. Kali ini akulah yang tertawa.

“Karena kau menolak ajakan minum kopi denganku, sepertinya aku harus pulang.” Ucap pria itu sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan anggukkan ringan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s