Awal Cerita Ini

Waktu itu aku sedang terluka. Waktu itu barulah kukenal pahitnya cinta. Waktu itu, kamulah yang ada disampingku. Waktu itu, kutinggalkan dirimu sendirian.

Katakanlah namaku Rae. Aku adalah seorang penulis novel remaja biasa. Ceritaku sudah banyak dikenal. Mulai dari novel sekolah, chick lit, ataupun novel dewasa sudah pernah kukarang. Tapi semua hanya khayalan belaka. Aku yang sejujurnya, aku yang menulis sejak SMA, masih ingin berlindung dibalik pintu, masih ingin mengenang masa lalu, masih menginginkan satu pria.

Waktu itu kami masih belia, semangat kehidupan memenuhi jiwa kami, imajinasi akan masa depan masih setinggi langit bertabur bintang. Kami tidak pernah dekat. Dia hanyalah seorang ketua kelas bagiku. Hingga hari itu. Disaat dia menghentikan air mata yang mengalir di pipiku.

Aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya, dia begitu pendiam dan culun. Temannya ya hanya itu itu saja, sesama manusia jenius.

Waktu itu bulan Desember. Sekolah sudah akan libur dan semua anak sudah mempersiapkan acara liburan mereka. Waktu itu aku mengetahui bahwa pria yang kusukai, bertunangan dengan sahabat terdekatku. Ya, bertunangan.

Tidak, aku tidak menyiram air minum ke Bianca. Aku tidak menangis di depannya, aku tidak menyumpahi ataupun memarahinya. Aku mengurung diri di belakang rak buku ilmiah dalam perpustakaan sekolah. Aku tidak bisa menghentikan air mataku yang mengalir sejak aku terduduk di lantainya yang dingin.

Bukan berarti aku menangis sendirian. Pria itu, sang ketua kelas yang tak kuingat lagi namanya menghampiriku dan memberikan selembar sapu tangan kotak-kotak kuno. Dan ia menemaniku menangis. Aku juga tidak mengusirnya. Saat itu aku hanya tidak ingin sendiri. Aku tidak peduli kalau nanti teman-temanku akan mengejekku kalau aku dekat-dekat manusia alien sepertinya. Atau kakak-kakak kelasku akan menjauhiku karena berduaan dengannya.

Aku berhenti menangis ketika ia mengulurkan tangannya padaku. Entah sudah berapa lama, tapi akupun sebetulnya lelah menangis. Aku membalas uluran tangannya dan berdiri tegak. “Apa?” Tanyaku waktu itu.

“Ayo pulang. Dimana rumahmu?” Balasnya.

Aku menggeleng. “Tasku? Lagipula aku menunggu dijemput.” Jawabku sambil melipat saputangannya.

Diluar dugaanku, ia menarik tanganku dan mengajakku berlari. Beberapa guru memang melintasi kami. Mereka kaget dan meneriaki kami, tapi ia terus berlari. Sekolah itu begitu besar. Sedangkan perpustakaan berada di lantai tiga. Kami sampai di parkiran motor tak berapa lama kemudian. Dengan napas terengah-engah.

“Crazy! This is Crazy! Aku meninggalkan sapu tanganmu di perpustakaan!” Bentakku padanya dengan suara pelan. Bukan membentak juga, lebih tepatnya aku tertawa. Menertawakan kegilaan sang ketua kelas.

“Nanti akan kusuruh Rio menjaga barang-barangmu. Juga sapu tangan itu. Sekarang, ayo naiklah.” ia tersenyum hangat. Itu senyum pertamanya yang pernah kulihat. Pernah sih aku melihatnya tersenyum di depan kelas. Tapi kali itu ia tersenyum padaku.

Aku tak pernah menyangka nerd sepertinya akan naik motor keren. Kau tau maksudku apa motor keren itu. Karena kukira ia akan dijemput juga. Biasanya seorang anak nerd orang tuanya pasti protektif kan?

Aku sebetulnya tidak ingin menceritakan memoriku ini. Tapi kalian pasti penasaran kan? Lagipula aku ingin melengkapi cerita ini.

Hari itu, ia membawaku ke sebuah taman yang tidak terawat. Kami bahkan meloncati sebuah pagar saat masuk. Lalu kami masuk semakin dalam dan rasanya seperti berada di tengah hutan. Dan aku menyukainya.

“Aku selalu datang kesini kalau sedang merasa tidak enak.” Pria itu duduk di atas sebuah batu besar.

Aku hanya berdiri memandang tempat ini. Bagus, menarik bahkan. Aku menoleh padanya, aku lupa apa ingin aku katakan ketika kulihat ia memandang ke langit pagi. Entah kapan ia melepas kacamatanya dan menghancurkan tataan rambutnya. Ia terlihat begitu … indah, menakjubkan, enchanting, dazzling? Entahlah.

Waktu itu aku memalingkan wajahku. Aku merasa takut. Beberapa menit kemudian, aku menyudahi hari itu. Dan esoknya, aku sudah ada di pesawat. Aku pindah ke London selama setahun, kemudian Jepang sepanjang 7 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s