Tentang Rae

Sore itu sederet antrian panjang memenuhi toko buku terbesar di Shibuya itu. Seorang novelis muda ternama sedang mengadakan promosi untuk buku terbarunya.

“Siapa nama kamu?” Tanyaku sambil menyalami gadis itu.

“Namaku Tomoe kak Rae. Aku ingin jadi penulis hebat seperti kakak!” Gadis itu menatapku berseri-seri. Aku membalas senyuman gadis itu.

“Kau pasti bisa, aku juga berjuang dari nol kok! Ganbatte!” kukepalkan tanganku di udara dan mengajak Tomoe ber tos ria sebelum akhirnya menandatangani buku ku yang terbaru dan memberikan buku itu padanya.

“Arigatou gozaimasu! Arigato Rae-san!” Tomoe mengambil bukunya dan membungkuk beberapa kali sebelum akhirnya pergi.

“Hai, namaku Rae. Siapa namamu?” Tanyaku pada gadis selanjutnya.

Sepanjang hari aku telah melakukan hal yang sama berulang-ulang. Hingga akhirnya satu orang tersisa malam itu.

“Um.. Rae-san. Aku sudah lama mengangumimu. Sebentar lagi aku akan test kuliah di universitas X. Mohon doakan aku!” Gadis itu membungkuk.

Aku tersenyum, “Aku akan mendoakanmu. Berusahalah, aku yakin kau bisa!” Gadis di depanku terlihat pintar, kemungkinan ia pasti bisa melakukannya.

“Baiklah! Aku akan berusaha! Ah iya, namaku Biansca. ” Ucap gadis itu.

“Apa? Namamu Bianca?”  Tanyaku.

“Vansca kak.” Ulang gadis itu.

“Ohh.. Maaf.” Aku lega karena hanya salah mendengar namanya. Rasanya kaget sekali waktu mendengar nama Bianca disebut.

“Arigato Rae-san.” Ucap Vansca sambil berlalu pergi. Dengan gadis itu melewati pintu utama, aku segera berdiri. Pinggangku terasa sakit dan pegal sekali.

“Momo-san, aku pulang duluan ya.” Ucapku pada manajerku yang sedari tadi mengobrol dengan pemilik toko buku ini. Mereka tampak asik sekali karena itu aku tidak menunggu jawaban Momo-san dan langsung keluar sambil menebarkan senyum pada beberapa security yang bertemu pandang denganku.

Aku baru sampai dirumah ketika bel berbunyi. Pahadal aku sedang asik merenggangkan badan.

Ting tong…. Ting tong.

Ting tong…..

Tingtong tingtong tingtong

“Ck. Siapasih yang datang malam seperti ini.” Aku memutar bola mataku dan berjalan keluar. Kubuka pintu itu dengan kesal. Seorang gadis manis sedang berdiri disana.

“Rae nee-san!” Ucap gadis itu sambil melangkah masuk dan menutup pintu.

Aku rasanya pernah melihat gadis itu, entah dimana dan kapan. Mungkinkah salah satu pembaca novelnya? Wajahnya manis dan cantik. Rambutnya pendek dan gayanya tomboi. Ia kehabisan napas. Mungkin habis berlari.

“Nee-san, maaf aku mengganggumu malam-malam begini.” Gadis itu tidak terlihat bersalah sama sekali. Malahan tersenyum senang.

“Namamu siapa? Kita kenal dari mana?” Tanyaku sambil melipat tangan. Sesaat gadis itu terlihat sakit hati karena namanya tidak diingat, tapi gadis itu menjawab juga.

“Namaku Gi Se Hyeon. Aku ini keponakanmu eonni! Aku sudah setahun ini menetap di Jepang.” Jelas gadis itu dengan ekspresi sedikit ngambek.

“Mau apa kesini?” Tanyaku lagi.

“Aku boleh tidak tinggal disini sampai kuliahku selesai?” Tanya gadis itu setengah berharap untuk diterima.

Aku mengelengg. “Tidak. Memangnya kenapa dengan asramamu?” Tanyaku, kali ini Aku menatap gadis itu kesal. Seingatku memang punya keponakan yang tinggal di Jepang tapi tinggal di asrama dekat kuliahnya.

“Terbakar minggu lalu. Kemarin-kemarin aku menginap di rumah teman. Tapi kan tidak enak menginap dirumahnya terus-terusan. Jadi kupikir…”

“Sudah hubungi Cha Ra?” Rae memotong kalimat gadis itu.

“Belum.. Aku tidak ingin mengkhawatirkan mama.” Jawab gadis itu. Senyum masih terpasang di wajah Hyeon.

“Baiklah, tinggallah disini untuk hari ini. Tapi malam ini, istirahatlah saja. Aku akan mencarikan baju untukmu. Cucilah mukamu dan tidur!” Aku mengangkat kedua bahu dan menunjuk kamar tamu. Setelah itu Aku pergi ke kamar untuk mempersiapkan baju untuk Hyeon.

Hal terakhir yang kuingat tentang Hyeon adalah bahwa gadis itu sangat nakal dan berandalan. Tapi ia sebetulnya gadis yang baik. Mungkin Jepang terlalu bebas untuknya. Tapi tidak dirumah ini.

Aku masuk ke kamar tamu dan meletakan sepasang pj’s dan segelas air putih di meja kecil .Aku mendengar suara air mengalir dan keluar dari kamar itu. Sebetulnya sikap Hyeon sangat mirip denganku di masa lalu. Mungkin karena itulah aku tidak begitu menyukai gadis itu.

Aku kembali ke kamarku untuk mengetik projekku yang baru. Tapi belum sampai setengah jam menulis aku sudah kehabisan ide. Keberadaan Hyeon mengingatkanku pada ketua kelas itu. Aku masih belum bisa mengingat namanya. Kalau saja dulu ia handphonenya tidak rusak, mungkin ia akan menghubungi teman-teman lainnya di Korea hanya agar ia tau nama si ketua kelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s