Mood Changing

Aku kembali menstalk mereka lagi hari ini. Mereka akan melakukan photo shoot untuk album mereka yang terbaru. Dimulai dari Lee yang sepertinya sangat digemari setiap gadis di tempat itu. Senyumnya memang manis sih.

Selanjutnya Jun yang rambutnya sudah diubah. Tetap saja aku lebih suka yang dulu, tapi ia sangat keren. Tidak ada yang ingin terlalu dekat dengannya, hanya berani memandang dari jauh saja. Memangnya ia semenakutkan itu ya? Ia menyadari aku memandanginya dan menatapku. Aku tersenyum dan kembali memperhatikan Zac.

Zac terlihat ceria dan ia banyak senyum. Kami sempat bertemu pandang dan ia melambai padaku. Aku yang kaget hanya menunduk. Aku bahkan tidak yakin ia melambai padaku atau pada kamera karena aku berdiri di belakang kamera.

“Rae-ssi!” Panggil seorang gadis dari jauh. Ia terlihat sangat senang.

“Ya?” Aku dengan cepat berbalik kepadanya. Ia mengeluarkan sebuah buku dan bolpoin. Rupanya fansku, ia membaca buku bahasa Jepang? Aneh sekali, kukira bukuku tidak akan sampai ke Korea.

“Bisa minta tanda tanganmu tidak? Aku sangat-sangat menyukai karyamu!” Ucap gadis itu dalam bahasa Jepang yang fasih. Ternyata ia orang Jepang. Ia menceritakan bagaimana kakaknya mengiriminya bukuku.

Aku tersenyum padanya dan menandatangani buku itu dan mengembalikannya. Kami mengobrol selama beberapa saat. Ia bahkan sempat bercerita bagaimana kakaknya yang juga membaca bukuku sangat menyukai “Rotten, Yet Beautiful” dan bisa dibilang itu percakapan yang panjang.

Saat gadis itu pergi, kegiatan photo shoot sudah selesai. Aku mengikuti mereka ke gedung practice lagi. Mereka berlatih tanpa henti. Rasanya kasihan juga melihat mereka yang berkeringat tapi masih tidak berhenti. Aku menghampiri manajer mereka.

“Apa mereka selalu seperti ini setiap hari?” Tanyaku.

“Tidak, kadang mereka ke gym. Menjadi idol memang sangat sulit. Menjadi boneka untuk menyenangkan orang lain. Puppet.” Ucap manajernya sambil terkekeh, menertawakan mereka. Aku hanya mengangkat bahu.

Setelah mereka selesai aku bertepuk tangan dan tersenyum. “Kalian menakjubkan.” Ucapku memberi semangat. Aku tidak tau kalau menjadi idol sesusah itu. Mereka membalas senyumku. Bahkan Jun juga, walaupun ia langsung menutupinya. Selama mereka beristirahat aku pamit pulang karena sehabis ini mereka akan syuting dan aku tidak berniat menganggu sejauh itu.

Sampai di hotel aku berhasil menyelesaikan chapter pertama pada novelku. Semua berjalan dengan baik dan lancar kecuali masalah pribadiku.

Di Jepang, gosip itu merambat naik lagi akibat rumahku kedatangan manajer Shim Hye Jin. Kata Hyeon wartawan mulai berdatangan tapi Hyeon berhasil meyakini bahwa aku tidak ada dirumah sebelum ia akhirnya pergi ke rumah Mai-chan.

Aku sedang tidak ingin memikirkan hal itu jadi lupakan saja. Aku punya dua minggu lebih untuk tidak memikirkan Hye Jin yang sepertinya terus-terusan mengganggu ku secara tidak langsung. Yah baiklah, aku yakin ia bukannya sengaja melakukannya.

Berganti topik, novelku berjalan dengan sangat baik. Aku sudah mengirim chapter pertama pada Momo-san dan ia bilang bagus. Seperti biasa, mungkin semua rencananya selalu berhasil. Aku bersyukur memiliki editor sebaik Momo-san.

Malam itu aku menelepon ke London, sebuah kegiatan yang harusnya kulakukan setiap bulan. Tapi aku lebih sering lupa dan melakukannya dua kali di bula berikutnya.

“Rae!” Sapa kakakku yang pertama, ibu Hyeon.

“Eonni! Sedang apa?” Tanyaku.

“Kami sedang menonton TV bersama, kemarin Won membelikan kaset film **** untuk kami. Bagaimana kabar Hyeon? Eh tunggu sebentar.” Jawab Kang Cha Ra atau lebih sering dipanggil Caca. Aku bisa mendengar eonni meneriakan namaku. Mungkin ia mengabari kalau aku menelepon.

“RAE!!! KEMANA AJA KAMU!” Teriak kakaknya yang kedua, sudah puya anak tapi masih kecil sekali. Kang Baek Won atau Won.

“Won hyung!” Ejekku dengan suara yang diberatkan. Dulu aku sering berpura-pura menjadi adik laki-laki Won oppa.

“Bicaralah dengan mama dulu sana.” Ucap Won oppa sambil tertawa.

“Omma.” Panggilku pelan.

“Rae..? Mama senang kamu telepon. Mama udah liat buku kamu yang baru, gimana kabarnya sekarang?” Tanya mamanya lembut.

“Baik Ma, couldn’t be better. Mama gimana? Batuknya udah sembuh Ma?” Tanyaku.

“Udah. Rae udah punya pacar belom?” Tanya mamanya lagi, mulai menginterogasi dirinya.

“Belum Ma, kalau jodoh pasti ketemu kok.” Aku tersenyum walaupun tau mama tidak bisa melihatnya.

“Yasudah, mengobrolah sama kakak-kakakmu.” Ada nada kecewa dalam suara mama-nya tapi Rae pun tak bisa berbuat apa-apa.

“Aku duluan Noona!” Paksa Won oppa kemungkinan sambil merebut gagang telepon dari eonni.

“Hei adik kecil, kau terlalu mencintai oppa-mu ini kan sampai tak bisa mencintai pria lain? Aku tau aku memang sangat keren, tapi aku sudah punya istri tau.” Ucap Won oppa sambil bercanda. Aku tertawa.

“Cepatlah cari laki-laki yang baik, aku ingin melihat seorang keponakan yang kece tau. Aku ingin sekali.” Lanjutnya tanpa memberiku jeda untuk membalas. Kali ini ia menggunakan ada memelas yang lebay. Aku pun tertawa lagi.

“Iya oppa, aku akan pulang membawa calonku.” Jawabku di sela-sela tawa.

“Sering-seringlah telepon oke? Kau tau kami tidak mungkin mengganggu kerjamu, karena itu kau harus lebih sering menelepon kami kalau sedang tidak sibuk.” Paksanya lagi, kali ini ia serius.

Aku mengangguk-angguk sambil mengiyakan. Gagang berpindah pada eonni.  Kakak perempuanku lebih kalem dan tidak secerewet Won oppa. Tapi kelembutannya malah kadang membuatku canggung. Selama beberapa detik tidak ada suara disana. Hingga akhirnya aku membuka mulut duluan.

“Eonni, gimana kabar mama?” Tanyaku.

“Mama baik, batuknya sembuh total dan gulanya juga sudah normal.” Balasnya.

“Eonni, ada banyak yang ingin kuceritakan sebetulnya. Bagaimana kalau aku kirim email saja?” Tanyaku berusaha mengusir kecanggunggan ini. Setelah eonni setuju aku mengetik di laptopku tentang semua hal yang terjadi padaku belakangan ini. Semuanya tanpa terkecuali. Selesai mengirimkannya aku menutup laptop itu dan berusaha tidur.

Here I am!

Korea. Seoul. Akhirnya aku sampai juga di kota ini. Huftt… Sudah berapa tahun aku meninggalkan tempat ini? Waktu itu Desember 19XX aku berumur 17 tahun. Sekarang sudah 26 tahun.. Berarti 9 tahun? Aaa… Gilalah lama sekali

Saat aku sampai waktu sudah menunjukan pukul tujuh lebih. Sepanjang jalan menuju hotel aku melihat banyak sekali banner-banner para k-pop idol. Benar kan mereka disebut seperti itu? Hmm.. Aku tidak tau.

Aku sudah bertanya pada Momo-san kenapa ia memilih Korea. Jawabnya?

“Habisnya kalau disini kau sudah terkenal, sekali-sekali aku ingin melihatmu yang tidak perlu berakting di depan pada readers-mu.” Jawabnya waktu itu.

Aku tidak mengerti, apa salahnya berpura-pura ceria di depan mereka (readers) toh menurutku biarpun mereka terkadang menganggapku lebih dari aku yang sebetulnya, bukankah mereka terlihat senang? Apa aku salah ingin membuat mereka senang?

Sepanjang perjalanan ke hotel aku terus memikirkan hal itu. Tanpa sadar aku sudah berada di depan lobby. Aku segera keluar sambil membayar taksi itu. Aku berjalan sedikit terburu-buru ke atas. Ada sesuatu yang perlu ku tulis di dalam novelku.

Tiga jam kemudian aku berhasil membuat prolog + beberapa ratus kata di novelku. Dan dengan senang hati menghapus catatan sebelumnya. Aku segera mengetik sms untuk hyeon dan Momo-san. Hanya untuk mengabari aku sudah sampai. Walaupun sudah lewat tiga jam, tak apalah. Mereka pasti mengerti.

Malam itu, walaupun tidak mabuk aku memimpikan si ketua kelas. Sama seperti mimpi sebelumnya, ditengah padang gurun dengan baju sekolahnya. Lalu setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku menjangkaunya. Memeluknya erat, dan terbangun.

Sinar matahari berhembus dari balik tirai di jendela. Pemandangan keluar memang indah, tapi aku tidak mood untuk memandangi pemandangan. Aku akan segera menemui idol-idol bimbingan (atau pembimbing) ku hari ini, pagi ini. Dan aku tidak ingin membuat mereka menunggu.

Oh iya, karena aku tidak berniat membuat fanfic jadi lebih baik nama boyban ini kusamarkan menjadi VAGEL. Alasannya adalah karena video clip mereka sempat mengangkat tema vampire dan angel. Hoohh… Jangan menebak siapa mereka. Aku ingin menjaga privacy.

Waktu aku datang aku melihat lima pria sedang menari-nari tidak jelas di ruangan practice mereka. Saat aku masuk mereka berlima menyapaku dan aku menyapa balik. Seorang pria datang dari ruangan lainnya dan ikut menunduk tanpa berkata apapun.

“Ahahah… Itu manajernya?” Tunjukku pada pria yang muncul terakhir. Aku menunduk formal padanya.

“Maaf sekali saya menganggu kalian berlatih, nama saya Kang Hwa Rae.” Ucapku sambil tersenyum tipis.

“Tidak, tidak. Saya leader Zac. Dan manajer kita sedang tdak ada disini, dia Jun.” Ucap pria yang paling pendek diantara mereka (dia tetap tinggi) sambil tertawa kecil.

“Ohh.. Maaf.” Ucapku pelan sambil membungkuk pada Jun. Pria itu hanya mengangguk dan kembali duduk di sofa.

“Kami tidak sedang latihan, tadi itu hanya iseng-iseng saja. Saya Raven.” Ucap pria bertopi melanjutkan.

Diikuti dengan perkenalan tiga member lainnya, Shin, Keito, dan Lee. Dan diatara mereka, aku menyadari satu hal. Pria bernama Jun sangat berbeda daripada yang lainnya, sangat tidak cocok. Dan mereka (selain Jun) sangat suka berfoto. Aku tersenyum beberapa kali melihat kegilaan mereka, sedangkan Jun hanya duduk di ujung sambil mengikuti musik yang ia mainkan di headsetnya.

Jujur saja, aku tidak percaya ketika melihat latihan mereka. Betapa ekspresifnya Jun saat menari, bernyanyi, dan ia berusaha menunjukkan yang terbaik. Aku kagum, terkesan, dan entahlah, kaget?

Aku menonton mereka sepanjang latihan, beberapa kali kesalahan-kesalahan kecil terjadi. Lalu mereka berhasil melakukannya tanpa kesalahan sedikitpun. Dan itu hanya dalam satu jam. Refleks aku bertepuk tangan. Mereka tersenyum dan berterimakasih. Sementara aku mencatat di handphoneku. Ya, aku tidak boleh lupa mencatat hal-hal kecil diantara mereka.

Setelah itu mereka berlatih secara invidual di ruangan terpisah. Aku hanya menonton dari luar karena mereka tampak sangat serius. Mulai dari Zac yang terus-terusan membuat lambang V dan tersenyum manis sambil melatih suaranya. Aku merasa tidak enak terus-terus menontonnya dan berpindah ke Raven yang seruangan dengan Keito. Ternyata Raven sedang nge-rap dan Keito menemaninya sambil sesekali memberikan beatbox. Mereka sempat melambai sebelum akhirna pamer suara mereka. Aku bertepuk tangan dan berjalan menonton Lee dan Shin.

Mereka tampak sangat serius sambil dan tidak menyadari kehadiranku. Karena itu aku juga sedikit bersembunyi. Waktu mereka mulai istrahat barulah mereka menyadariku. Dan aku melambaikan tangan dan bergerak ke ruangan terakhir, Jun. Seperti ruangan lainnya aku bisa mendengar suaranya yang menakjubkan dari luar. Ketika menyadari keberadaanku ia berhenti dan memandangku. Aku balik memandangnya biasa saja. Maksudku, kenapa ia berhenti?

Ia berjalan ke arahku dan membuka pintu. “Jangan menontonku.” Ucapnya sangat pelan dengan suaranya yang pertama kali kudengar. Aku menyukai suara itu, menakjubkan.

Kami saling menatap untuk beberapa detik. Ia seperti berusaha menjauhiku tapi saat itu aku berharap ia akan bicara lebih banyak. Namun Zac tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang.

“Rae-ssi! Are you charmed by Jun too?” Tanya Zac dengan bahasa inggris yang aneh. Aku menggeleng dan tertawa.

“Tidak, aku hanya menunggunya untuk mengatakan sesuatu sebab matanya seperti ingin mengatakan sesuatu.” Jawabku jujur.

“Aaa~ Ok ok ini sudah jamnya makan siang, ayo makan. Aku baru akan memanggil yang lainnya.” Ucap Zac seakan berusaha mengganti topik. Aku dan Jun menggangguk bersamaan. Tapi aku berusaha mengabaikan hal itu.

Lunch siang itu aku berpisah makan dengan mereka di sebuah restoran. Mereka bersemangat sekali dan beberapa kali tertawa (kecuali Jun) karena setiap dari mereka (kecuali Jun) selalu ingin membuat member lainnya tertawa.

Tapi aku yang tidak begitu mengerti apa yang mereka tertawakan, aku iri pada Jun yang bisa bersikap seakan ia tidak mendengar joke itu lucu dan ia tidak perlu tertawa. Sedangkan aku harus tertawa, lucu atau tidak, tetaplah tertawa. Aku sempat bertemu pandang dengannya sekali. Ia langsung memalingkan wajah saat itu. Aku pun sama.

Setelah makan siang aku kembali ke hotel. Alasan Momo-san sudah invalid karena aku tetap harus berpura-pura di depan mereka. Momo-san, kau gagal.

Sepanjang siang itu aku kembal mengetik. Aku sudah memutuskan karakter yang akan aku ambil dan ku observasi lebih lanjut. Hanya satu orang yang berhasil menarik perhatianku. Jun.
—————x——————x——————-

Keesokan harinya aku tidak kembali melainkan menonton berbagai video tentang mereka di youtube. Mencari fakta tentang mereka dan betapa mereka disukai.

Aku menemukan banyak fakta menakjubkan yang membuatku tertawa, kagum, sedih, kesal, dan banyak sekali. Dan aku mengakui bahwa tanpa sadar aku fokus pada Jun. Karena memang dialah pemeran utama novelku.

Dan untuk menutupi identitas group idol ini aku memutuskan untuk tidak akan membeberkan apapun tentang mereka 🙂

Sorenya aku menyempatkan waktu untuk menonton konser mereka di sebuah mall. Menakjubkan, selain dance mereka sangat keren, fans mereka tidak kalah gilanya. Semua gadis berteriak dan hoohh…. Pengalaman yang sulit dijelaskan.

Intinya, sepanjang hari itu aku mencatat banyak hal. Dan esoknya aku mengetik tanpa henti tanpa keluar dari kamar hotel. Aku berhasil membuat beberapa plot yang menurutku cukup bagus. Dan perasaanku, senang sekali.

 

Rae : I dont want to go to Korea. Personally speaking Korea is absurd. I mean, we have idols here in Japan. She just want me to go to Korea.

(Momo : Aku kan cuma ingin dia sedikit bersenang-senang. -,-)

Rae : Lagipula idol amana yang akan diincarnya kali ini? Momo-san itu biarpun sudah punya dua anak masih bersikap seperti remaja…

(Momo : Hoohh…. Enak saja gadis itu. mentang-mentang belum menikah. Aku memberikanmu sebuah boyband yang cukup bagus tau.)

Rae : Mau atau tidaknya aku, pasti dipaksa juga.

(Momo : Kalau ia tidak mau pasti ia tidak akan pergi!)

Rae : Dasar tante-tante…

(Momo : ……………………………………………..)

 

 

 

Korea….??

Sebulan telah berlalu. Cepat sekali memang. Tanpa terasa bulan Agustus sudah i depan mata. Malam ini aku memikirkan segala cara untuk melanjutkan novelku, hasilnya nol besar. Aku tidak menemukan inspirasi apapun untuk novelku yang kali ini.

Dari jauh aku melihat Momo-san yang melambaikan tangan padaku. Aku melambai kecil padanya dan tersenyum. Kami memang berjanji untuk bertemu untuk membahas kesulitanku dalam mendalami peran novelku kali ini haha… Aku yang jarang keluar rumah, menjadi seorang penulis yang kreatif sangat sulit mendalami peranku yang beragam.

“Masalahmu di novel ini hanya itu?” Tanya Momo-san dengan nada bercanda. Ia memang sudah teriasa mendengar masalahku yang selalu sama. Aku hanya mengangguk.

“Yasudah kalau begitu aku kali ini lagi-lagi akan membantumu.” Ucapnya dengan nada serius yang aneh. Jangan suruh aku menjelaskan. Aku tidak tau bagaimana ia bisa mengatakannya dengan nada itu. Lagi lagi aku hanya menggangguk.

“Minggu depan aku akan menyusun jadwal untukmu supaya ke Korea.” Ia memberi jeda sebentar, memperhatikan ekspresiku.

“Disana aku akan memperkenalkan sebuah band, kamu bisa berkerja sama dengan mereka. Dan cobalah memperhatikan kehidupan mereka. Bagaimana?” Lanjut Momo-san setelah aku menunjukan ekspresi datar.

“Tidak.” Jawabku cepat. Aku tidak ingin kembali ke Korea, haha….

“Oh, please. Aku tau kau tidak ingin kembali ke Korea. Demi novel ini oke? Hanya sampai kau berhasil menggarap semuanya. Bagaimana kalau 21 hari? Tiga minggu?” ujar Momo-san memaksa.

“Tidak.” Jawabku tegas.

“Just go would you?” Paksa Momo-san kesal. Wanita yang berusia 30 itu bangkit dan mengancamku beberapa kali lalu meninggalkanku sendiri. Aku hanya mengangkat bahu. Mau gimana lagi, aku harus pergi.

Aku pun bangkit dan keluar dari cafe itu dan berjalan kaki sampai rumah. Itung-itung olahraga.

“Hyeon-chan!” Panggilku saat membuka pintu depan.

“Yaa?? Aku di dapur eonni!” Jawab gadis itu dari dalam.

Aku bergegas masuk ke dapur dan duduk di meja makan. Kalau aku tidak ingin ke Korea alasan terakhirku adalah Hyeon-chan. Aku tidak mungkin meninggalkan gadis berumur 20 tahun di rumahku sendirian kan? Bagaimana kalau ia mabuk atau ada pencuri?

“Minggu depan ajaklah Mai-chan menginap disini. Aku akan pergi selama beberapa minggu.” Ujarku berusaha terdengar senormal mungkin.

“Hahh??? EH? KENAPA?” Tanya Hyeon kencang dan menghentikan kegiatan mencuci-nya.

Aku menjelaskan alasanku, novelku yang berjalan mundur, dan deadlineku. Awalnya ia tidak terlihat gembira. Tapi kurasa lama- kelamaan Hyeon mengerti juga. Aku khawatir sih sebetulnya, tapi kurasa Mai bisa dipercaya.

Jadi, aku akan ke Korea? Ya tentu saja.

Drunk

Seminggu setelah insiden Hye Jin kerumahku berita mulai kembali normal. Hanya saja desas desus masih ada. Aku sudah jarang menonton berita dan fokus pada naskah novelku yang selanjutnya. Kali ini aku berniat menulis novel 120.000 kata. Atau dua kalinya novelku yang biasa. The Wheelchair, novelku yang sebelumnya menjadi hits. Tapi tidak sampai best seller. Huft…

Aku berjalan ke kamarku, hari ini aku dan Hyeon berencana membeli supply makanan yang sudah habis sejak kemarin. Setelah berganti baju aku turun. Hyeon sudah siap lebih dulu.

“Ayo berangkat! Hari ini aku mengajak Mai-chan.” Ujar Hyeon senang.

Aku menggangguk dan mengambil kunci mobil. Setelah itu kami melesat ke sebuah supermarket yang berada di dalam mall. Aku sengaja memilih mall ini agar Hyeon dan Mai bisa berjalan-jalan dan aku bisa nongkrong di cafe. Pikiranku kok mulai seperti ibu-ibu saja ya lama-lama.

“Hyeon-chan, kamu mau masak apa saja?” Tanyaku pada koki rumah kami aka Hyeon.

“Apa ya..? Aku biasanya masak sesuai kulkas saja sih. Yang jelas kita kekurangan sayur-sayuran, daging, dan bumbunya sudah sedikit semua.” Jawab Hyeon panjang lebar.

“Aku cari sayuran, kamu cari daging dengan Mai-chan ya? Kalau sudah selesai duluan kita berkumpul di cafe S. Nanti telepon saja.” Perintahku pada Hyeon yang langsung mengangguk. Kami berpencar.

Satu jam kemudian aku berhasil menemukan semua yang kira-kira aku suka atau pernah kumakan. Setelah membayar di kasir aku berjalan duluan ke cafe S sambil menggetik pesan untuk Hyeon, “Aku ke cafe S duluan ya. Kalau sudah selesai datanglah.” Ketikku lalu mengirim sms itu.

Aku duduk di cafe S dan memesan segelas juice dan kue buahnya yang terkenal enak. Tapi setelah mereka disajikan aku merasa tidak mood untuk makan. Sepuluh menit kemudian Hyeon dan Mai datang.

“Banyak sekali!” Komentarku melihat barang bawaan mereka yang memang banyak.

“Iya hehe..” Balas Hyeon sambil membentuk tanda peace di tangannya.

“Kalian duduklah sebentar, nanti kita pindahin ini ke mobil terus kalian bisa jalan-jalan disini atau dimana aja asalkan ga mabuk.” Candaku sekaligus mengacam.

“Kalian? Ikut dong Rae-san.” Pinta Mai memohon.

“Hoohh… Aku lebih suka dirumah.” Tolakku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menggeser piring kue itu kedepan Hyeon.

“Ayolah, Nee-chan selalu dirumah seperti ibu-ibu padahal kan tidak setua itu.” Ucap Hyeon.

“Umurku harusnya sudah menggendong satu anak.” Balasku.

“Bukannya baru 26 tahun? Masih muda kok!” Balas Mai lagi.

“Sstt.. Sudahlah, ayo bantu aku membawa barang-barang ini ke mobil.” Ucapku sambil berdiri dan mengangkat beberapa barang. Sepanjang perjalanan turun Hyeon terus-terus memaksaku tapi aku tetap keras kepala. Dan mengatakan tidak. Sampai akhirnya aku sampai di mobil.

“Byebye.” Ucapku sambil melambaikan tangan.

Aku melesat ke pulang. Sampai dirumah niatku untuk menulis hilang. Belakangan aku sangat terbebani dengan masalah statusku yang masih single. Mungkinkah aku harus jadi biarawati saja? Uhhh…..

Aku lalu berjalan ke dapur dan mengambil sebotol wine. Untung Hyeon menurutiku untuk tidak menyentuh wine ini. Aku mengambil gelas dan menuang wine itu sambil duduk di meja makan.

Sambil meminum wine itu pikiranku melayang pada sang ketua kelas lagi. “Aku ingin bertemu..” Ucapku tanpa sadar. Dua puluh menit kemudian aku sudah menghabiskan sebotol wine. Setelah menyadari wineku sudah habis aku berjalan ke kamarku.

Kenapa terasa panas ya? Aku membuka jendela besar kesayanganku. Angin segar berhembus ke arahku. Aku seperti biasa duduk di jendela itu. Waktu itu mungkin juga seperti ini. Si ketua kelas menatap langit yang begitu cerah. Aku tersenyum dan memandang langit sore di depanku.

Entah berapa lama aku memandang langit yang kelamaan berubah menjadi jingga. Pikiranku melayang ke masa-masa SMA dulu. Bayangan memoriku seakan menari-nari di langit. Kurasa aku memang mabuk.

Ah itu dia Bianca, aku dan Geu Jun. Waktu itu aku begitu menyukai Geu Jun. Walaupun aku tau Geu Jun menyukai Bianca, dan Bianca menahan perasaannya karena aku. Waktu itu aku menangis di perpustakaan. Bukan karena mereka bertunangan, mungkin karena aku sudah tau sejak awal. Selain mereka saling menyukai orang tua mereka pun dekat. Jadi kenapa aku menangis?

Tiba-tiba di pikiranku terlintas sebuah pertanyaan. Untuk apa aku hidup? Aku terdiam. Untuk apa aku hidup? Aku hidup berkecukupan, hidupku tenang dan damai, setiap hari rutinitasku bisa kujalankan dengan baik. Aku menatap kebawah jendela. Ah kalau aku melompat dari sini sih tidak akan mati, tapi patah semua tulangku. Loh, siapa yang mau mati? Aku sepertinya betul-betul mab–

“Nee-chan!!!” Teriak Hyeon sambil memelukku dari belakang.

“Apa sih?!” Tanyaku yang ikutan kaget.

“Eonni ngapain deket-deket jendela??” Tanya Hyeon seperti biasa, membalik-balik antara nee-chan dan eonni. Aku mengerutkan kening.

“Liatin langit lah! Kamu pikir aku mau mati? Enak saja.” Balasku sambil menjitak kepalanya.

“Hah? Tapi habisnya eonni tadi berdiri nya gitu sih.” Balas Hyeon sambil mendelik.

Tak berapa lama kemudian Hyeon keluar dari kamarku. Tinggalah aku yang bertanya-tanya, memangnya aku tadi berdiri? Aku merasa kedinginan dan menutup jendela itu. Setelah mengetik beberapa puluh kata di laptopku aku memutuskan untuk segera tidur saja.

Malam itu mungkin karena masih mabuk, aku memimpikan si ketua kelas. Ia berada di tengah padang gurun tapi memakai baju sekolah waktu itu. Dibelakangnya bulan purnama bersinar terang sekali. Aku berjalan ke arahnya, lama sekali sampai akhirnya aku bisa memeluknya. Ia membalas pelukanku dan membisikkan sebuah kalimat yang tidak bisa kumengerti artinya. Mungkin malah aku tidak mengingat lagi apa yang ia katakan.

Lalu aku terbangun jam tiga pagi. Saat itu aku mencoba mengingat apa yang ia katakan tapi aku sudah terlanjur melupakannya. Aku lalu bangun dan duduk dibalik jendela. Langit malam sudah hampir terang walaupun masih bisa kulihat bulan sabit disana.

Lalu entah jam berapa, aku kembali tertidur.

Berita ><

Hari ini aku baru terbangun pukul 12 siang. Ya jelaslah, tadi malam aku tidak tidur sampai jam 5 pagi. Huh. Kata Hyeon tadi pagi memang ada pria yang datang. Tapi setelah mengambil naskah yang sengaja kutitipkan pada Hyeon, pria itu langsung pergi. Bagusdeh.

“Eh iya, Hyeon-chan, bukannya hari ini kamu ke kampus?” Tanyaku teringat percakapan kita kemarin. Ia mengangguk.

“Aku kuliah malam nee-chan.” Jelasnya sambil menonton tv dengan serius. Aku yang penasaran apa yang ia tonton pun duduk disebelahnya.

“Eonni, kalau rumah ini disorot gimana?” Tanya Hyeon tanpa mengalirkan pandangannya dari TV yang menampilkan iklan.

“Disorot gimana maksunya?” Tanyaku.

“Tadi malam, sepertinya ada yang memotret Leon-san lalu beritanya tersebar.” Ucap Hyeon bertepatan dengan mulainya acara berita yang di tontonnya.

Aku hendak bertanya lebih lanjut, tapi Hyeon segera mengencangkan volume tv itu.

“…… Rumah yang dikunjungi Shim Hye Jin atau lebih dikenal dengan Leon dikabari ternyata rumah seseorang yang terkenal juga!” Ucap sang pembawa acara wanita.

“Wah Leon-ssi kalau punya pacar bilang-bilang dong.” Balas pembawa acara yang pria.

Tak berapa lama layar berganti jadi rumahku yang di blur. Dalam video itu Hye Jin baru saja keluar setelah pintu ditutup oleh Hyeon. Tapi wajah Hyeon tidak keliatan. Hye Jin berjalan ke mobilnya lalu tanpa sengaja menjatuhkan kantong berisi bajunya. Kalau aku seorang penonton aku jelas akan mengira Hye Jin berpacaran dengan siapapun nama wanita yang tinggal di rumah itu. Sial. Pertama itu malam hari, kedua dia membawa baju.

Untunglah rumahku mirip sekali dengan rumah di komplek ini karena semua rumah sama. Jadi belum bisa dibuktikan rumah yang mana.

“Eonni… Gimana nih?” Tanya Hyeon khawatir.

“Sudah tidak apa-apa. Selama mereka tidak tau itu rumahku.” Jawabku berusaha tenang padahal aku sendiripun takut.

Aku segera berdiri dan masuk ke kamarku. Cahaya matahari menembus tirai besar di kaca kamarku. Aku duduk di jendela itu. Berharap memang tidak akan ada yang tau. Perbedaan rumahku dengan rumah lainnya hanya terletak di kaca ini. Tapi terletak di lantai dua dan untung saja tidak terlihat kamera.

_ping_

Aku berjalan ke meja kerjaku an mengambil handphone itu sambil berjalan balik ke jendela. Duduk disana memang sangat nyaman. Dari Hye Jin dan ada satu lagi dari Momo-san sejam yang lalu. Aku membuka punya Hye Jin duluan.

“Sudah lihat berita? Maaf jadi melibatkanmu. Aku akan segera meluruskan hal ini.” Bunti pesan itu. Aku hanya membalas “Ok.” Dan membuka pesan Momo-san.

“Rae-chan!! Aku sakit! Maaf ya tidak bisa menyelesaikan ceritamu :C aku menunggu bukunya saja ya ^^)/” bunyi pesan itu. Aku tersenyum dan membalas, “Iya~ tenang saja ^^)b”

Aku melempar handphoneku ke ranjang. Matahari yang tadinya hanya hangat mulai terasa panas di kulitku. Tapi aku tidak bergerak. Pikiranku kembali terkenang ke sang ketua kelas. Senyumnya waktu itu. Tawanya, suaranya, uluran tangannya yang sudah samar dalam ingatanku. Aku hanya mengingat satu hal selama delapan tahun. Yaitu bahwa aku tak ingin melupakannya.

Oke cukup sudah, ada yang lebih penting daripada mengingat masa lalu.

Taa daa~!  Ini mirip dengan kamar Rae.

Taa daa~! Ini mirip dengan kamar Rae.

 

Paling mirip karena punya 3 sofa~!

Paling mirip karena punya 3 sofa~!

Jadi ini contoh Rumah Rae.  Karena rumahku kecil dan cuma dua lantai + di komplek, jadi ga seluas aslinya hehe 😀

gambar pertama itu maksudnya kamar Rae. Tapi di depan ranjang itu cuma ada meja kerjaku, dan kamarku ga putih doang. Seprainya variatif hehe 😀 Terus jendela Rae ada tirainya dan ruangannya juga lebih tinggi.

Gambar kedua itu living room. Sofa yang sebelah kiri harusnya single sofa terus di ujung ada meja telepon dan bentuknya rada gamirip sih, tapi paling mirip ini kok hehe 😀 Terus harusnya ada rak buku diantara sofa tengah dan kanan.

 

  • 08.00 : Bangun, mandi, makan, membaca koran
  • 09.00 : menonton berita pagi.
  • 10.00 : Menulis novel
  • 11.00 : Menulis novel lagi
  • 12.00 : Menulis lagiiii TT_TT
  • 13.00 : makan siang, nonton kartun, baca buku.
  • 14.00 : duduk di jendela kamar, cari inspirasi, sambil nulis di notebook
  • 15.00 : pindahin ke tulisan, jadiin paragraf
  • 16.00 : baca novel
  • 17.00 : baca novel
  • 18.00 : mengutip isi novel, mencatat, mengambil poin” penting
  • 19.00 : menulis novel
  • 20.00 : makan malam, nonton film
  • 21.00 : browsing interet, cari inspirasi
  • 22.00 : menulis lagi sampai ketiduran.

Mana Manajermu?

Seminggu setelah kejadian sore itu sebuah paket sampai ke rumahku. Isinya handphoneku yang baru dan kartu permintaan maaf dan terimakasih. Aku menghargai hal tersebut.

Kriing Kriing.

Aku segera mengangkat telepon yang membangunkanku dari lamunanku. “Moshi moshi?”

“Rae-san, novelmu bagaimana? Bulan depan sudah harus di edit kan? Hari ini aku datang ya?” Ucap Momo-san cepat.

“Iya iya.” Jawabku sambil mengangguk-angguk walaupun aku tau Momo-san tidak bisa melihat anggukanku.

“Ok.” Sambungan segera terputus.

Aku beranjak dari sofa dan segera ke kamarku. Aku mencari-cari laptopku. Tapi kemana ya benda itu. Terlintas di benakku bahwa kemarin Hyeon meminjam laptopku. Aku menghampirinya di kamarnya.

“Hyeon-chan, liat laptopku tidak?” Tanyanya pada gadis yang sedang asik di depan kaca. Saat mendengarku Hyeon berbalik dan mengangguk. “Ah iya, aku lupa mengembalikannya.” Ucap gadis itu lalu mengambil laptop dari meja belajarnya dan memberikannya padaku.

“Nee-chan, aku sudah bilang mama aku tinggal disini.” Ujar Hyeon sebelum aku menutup pintu.

“Eonni bilang apa?” Tanyaku asal.

“Katanya, jangan menyusahkan Rae.” Ucap Hyeon sambil tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya lalu keluar dengan laptopku.

Sepanjang hari aku terus mengetik. Kalau tidak diingatkan Hyeon mungkin aku tidak akan makan.

“Eonni, ayo makan.” Panggil Hyeon dari dapur.

Sejak Hyeon tinggal dirumahnya tempat ini menjadi lebih baik. Hyeon bertanggung jawab atas memasak dan membersihkan rumah. Sementara aku berkerja dan menyuplai kebutuhan kita. Seminggu pun berlalu dengan baik.

Aku berjalan ke ruang makan. Hyeon sudah menungguku disana. “Nee-chan, gimana dengan Leon oppa?” Tanya Hyeon sudah ketiga kalinya minggu ini.

“Kau ini, semenit yang lalu panggil eonni, kemudian panggil nee-chan, nanti manggilnya oba-san?” Ujarku menghindari topik Leon dan mencoba bercanda.

“Jangan mengalihkan pembicaraan dong! Ayolah eonni, ceritakan lebih banyak entang Leon oppa. Dia juga orang Korea loh.” Ujar Hyeon bersemangat.

“Aku tidak tau banyak tentangnya. Ia hanya terasa familiar disaat-saat tertentu.” Jawabku jujur. Kalau ia sedang tertawa seperti waktu itu aku merasa familiar dengannya. Tapi selain itu biasa saja.

“Yahh… ” Balas Hyeon dengan kening berkerut.

“Gimana kuliahmu?” Tanyaku mengalihkan topik.

“Aku sudah mulai masuk besok. Hehe.” Jawab Hyeon sambil tersenyum.

“Hmm..” balasku sambil mengganguk-angguk.

“Eonni…” Panggil Hyeon saat au tengah melamun.

“Hm? Ya?” Balas ku cepat.

“Nenek khawatir kalau eonni tidak segera menikah.” Ucap Hyeon dengan perasaan tidak enak yang kentara. Mungkn ia dipaksa oleh eonni untuk mengatakan hal ini. Aku hanya tersenyum.

Selesai makan aku segera kembali ke kamarku untuk mengetik lagi. Tulisanku menjadi sedikit kacau. Aku menyerah pada imajinasiku yang tak bisa fokus dan menutup laptopku. Aku memandang ke jendela itu. Malam ini bulan terlihat setengah dan sedikit sekali bintang yang terlihat.

_ping_

Aku mengambil handphoneku dan membaca sebuah pesan dari nomor yang tidak terdaftar di kontak.

“Hey, sedang sibuk? Aku kesana ya?” Bunyi pesan itu. Aku berfikir sebentar sebelum menjawab, “Hye Jin? Tidak terlalu, Hyeon ingin sekali bertemu denganmu tuh. Haha” Balasku.

Tapi balasan tidak datang lagi, aku hanya mengangkat kedua bahu dan kembali mengetik. Aku mendapat inspirasi dari sms barusan. Sepuluh menit kemudian aku kehabisan ide lagi.

_Ting tong_

Oke, mungkin orang tadi siapapun dia memang berniat datang. Aku berjalan ke ruang tamu walaupun aku tau Hyeon sudah akan membukakan duluan. Benar saja Hyeon sedang duduk di sofa bersama Hye Jin atau Leon itu. Aku memutarkan kedua bola mataku.

“Tuh kan pengirim sms itu kamu.” Ucapku bercanda. Aku segera berjalan ke dapur. “Teh saja ya.” Ucapku tanpa bertanya.

Aku bisa mendengar samar-samar teriakan senang Hyeon. Seharusnya aku mengundang Mai juga, supaya pria itu kewalahan. Aku tertawa pelan memikirkan kejahatanku. Setelah membuat tiga teh aku membawanya ke ruang tamu.

Hyeon sedang berfoto ria bersama Hye Jin. Ia segera mematikan handphonenya ketika aku datang. Dari wajahnya terlihat kegembiraan. Aku hanya tersenyum.

“Jadi ada apa kemari?” tanyaku cepat.

“Bajuku yang minggu lalu, aku melaundrynya dekat sini. Sudah dibalikin belum?” Tanya pria itu.

“Bajumu yang waktu itu? Kayaknya belum deh.” Jawabku setelah berfikir selama beberapa detik.

“Sudah. Ada di kamarku, kemarin aku yang mengambil hehe.” Jawab Hyeon tiba-tiba.

“Ah Hyeon, bukannya bilang sejak tadi.” Omelku padanya. Hyeon hanya nyengir dan bergegas ke kamarnya. Setelah Hyeon pergi kami berdua terdiam.

“Rae-chan seorang penulis kan?” Tanya Hye Jin tiba-tiba. Pria itu tersenyum padanya.

Aku menggangguk. “Iya, masih penulis baru sih.” jawabku.

Setelah itu diam lagi. Hyeon kok lama sekali ya. Aku juga tidak tau apakah harus membuka percakapan atau tidak.

_Kring Kring_ aku segera mengangkat telepon yang memang berada diatas meja di sebelahku.

“Moshimoshi.” Sapaku duluan.

“Selamat malam Kang Rae-san, saya dari Tim Editorial V Company.” Ujar seorang pria.

“Malam, ada apa ya?” Tanyaku pada pria itu. Apa Momo sakit atau bagaimana?

“Hikari Momo jatuh sakit sore ini. Karena itu akan ada yang menggantikan Momo-san dalam pengerjaan editing untuk projek terbaru anda yaitu, The Wheelchair betul?” Ucap pria itu cepat seperti terburu-buru.

“Eh..? Iyasih..” Jawabku pelan, setengah kesal, setengah kaget. Tidak enak kalau tiba-tiba kau harus mengganti editormu kan?

“Baiklah, saya akan mengirim seseorang untuk besok pagi. Terimakasih.” Dan sambungan diputus. Huh, tidak sopan sekali orang itu. Tapi kok rasanya mirip Momo-san ya?

Bertepatan dengan aku mengembalikan telepon itu Hyeon kembali. Ia menenteng kantung plastik laundry dan mengembalikannya pada Hye Jin. Seiring dengan itu Hye Jin pun berdiri, Hyeon tidak jadi duduk dan aku pun ikutan berdiri.

“Baiklah, terimakasih telah menjaga bajuku dan sampai jumpa lagi. Maaf mengganggu malam-malam.” Ucap pria itu sambil berjalan ke depan diikuti Hyeon. Aku hanya tersenyum padanya sambil membalas lambaian tangannya.

Setelah ia pergi aku langsung melesat ke kamarku. Deadline ku menjadi besok pagi. Itu berarti aku harus menyelesaikan naskahku malam ini juga. Jadi sepanjang malam itu aku terus mengetik.  Hanya satu hal yang aku tidak mengerti. Untuk apa Hye Jin datang kesini hanya untuk mengambil baju? bukankah mereka punya manajer untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini?

Kopi = Muntah

Ting tong..

Aku menatap jam dinding, siapa yang kiranya datang sesore ini? Hyeon bilang ia akan pulang malam karena tadi ku tinggalkan. Aku membuka pintu itu, seseorang yang familiar menatapku.

“Kang Hwa Rae?” Tanya pria berkacamata hitam itu.

Aku hanya mengangguk, aku sudah ingat sekarang. Pria yang tadi siang rupanya. “Shim Hye Jin?” Tanyaku balik.

Pria itu juga mengangguk. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk di sofa. “Teh atau kopi?” Tanyaku selayaknya tuan rumah yang baik. Bah. Aku hanya bingung karena sesaat ia hanya menatapku.

“Nanti saja tidak apa-apa.” Jawab pria itu sambil melepas kacamatanya. Ia terlihat lebih baik daripada tadi pagi. Rambutnya yang panjang tersisir rapi. Aku yang sudah berdiri pun kembali duduk.

“Kenapa tidak menelepon saja?” Tanyaku bingung.

“Disini hanya tertulis nomor handphonemu yang rusak bukan?” Tanyanya sambil tersenyum bercanda.

“Oh iya! Aku lupa, yaampun… Maaf.” Ucapku sambil menepuk dahiku.

“Iya, apa perkerjaanmu sudah selesai?” Tanya pria itu lagi sambil terkekeh.

Aku teringat sikap sok sibukku tadi siang. “Soal tadi siang, maaf aku bersikap kasar. Aku tidak begitu menyukai dingin.” Jawabku tidak enak.

“Jangan dipikirkan. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar? Aku tau kedai kopi yang enak.” Tanya Hye Jin lagi kali ini pria itu tersenyum ramah.

Perutku terasa mual, awalnya aku bersedia saja ia datang untuk mengganti handphoneku. Tapi hanya karena ia tampan, bukan berarti aku semurah kopi. Aku memasang senyum.

“Kurasa aku masih terlalu sibuk.” Ucapku seramah mungkin. Ia juga sepertinya menyadari bahwa pilihan katanya salah. Sesaat ia lalu terkekeh.

“Oke, kamu benar-benar unik.” Ucap pria itu sambil tersenyum senang.

Aku tidak membalas dan menatapnya tidak suka. Ia tersenyum tipis. “Aku rasa kau tidak mengenalku. Menarik sekali.” Ucapnya.

Aku mengangkat bahu. “Aku memang tidak mengenalmu. Kalau kamu seorang idol, aku jarang menonton TV. Kalau kamu seorang pengusaha terkenal, aku bukan di bidang bisnis. Kalau kamu politikus, aku benci politik.” jawabku ringan setengah menyindir juga.

Ting tong ting tong

Aku segera berdiri dan membukakan pintu yang jaraknya cukup dekat itu. Hyeon dan Mai tersenyum padanya sambil membawa belanjaan yang segunung. “Nee-chan! Kami membelikanmu banyak barang loh!” Ujar Hyeon dengan wajah berseri-seri.

Mai langsung memelukku dan melepas belanjaannya. Dan saat itu aku menyium bau alkohol. “Rae-sama! Aku sangat mengidolakanmu! Aku sangat mencintai karya-karya mu! Hehehe..” Teriak Mai gembira sambil memeluknya erat.

“Mai-chan! Hyeon! Kalian kenapa bisa mabuk sih. Ck.” Ujarku sambil berusaha melepaskan pelukan Mai. Tapi Mai sendiri sudah melepasnya. Dan membawa masuk belanjaannya. “Aku akan membantu Hyeon-chan! Yeay!” ucap gadis itu riang.

Hyeon juga masuk. “Dan aku akan membawakan punyamu Mai-chan! Yeay yeay yeay!” balas Hyeon sambil tertawa.

Aku mengunci pintu dan masuk ke dalam. “Masih jam enam kok sudah mabuk-mabukan sih?!” Omelku pada kedua gadis itu.

“Kyaa!!!! Leon-sama!!” Hyeon histeris melihat Hye Jin di sofa. Anehnya Hye Jin hanya melambai dan tersenyum. Hyeon melepas semua belanjaannya, begitu juga Mai. Mereka menyerbu pria itu. Sementara aku hanya bisa menganga.

“Hyeon!” bentakku dengan wajah memerah. Mereka terlalu liar! Yaampun, memalukan sekali! Tapi aku jadi berfikir, jangan-jangan Hye Jin ini adalah idol.

“Aku sudah terbiasa kok. Mereka sedang mabuk saja.” Ucap pria itu berusaha menenangkan padahal ia terlihat tidak enak.

“Maafkan mereka ya. Keterlaluan sekali.” Ucapku sambil berusaha menarik Hyeon.

Tak berapa lama Mai dan Hyeon teridur sambil memeluk pria itu. Aku menatap gadis-gadis yang tertidur seperti bayi, padahal seliar kuda. “Maaf, ternyata kau memang idol. Tinggalkan sa…”

Hoeekk…

“Argh! Sh*t!” Teriak pria itu ketika Mai sukses muntah diatas bajunya. Aku butuh waktu sebelum akhirnya menyadari apa yang terjadi. Perutku terasa mual dan aku berbalik.

Setelah beberapa detik aku memberanikan diri dan berbalik. Hye Jin juga masih terlihat shock. Aku mengulurkan tanganku padanya. “Kau ingin bangun..? Mungkin?” Tanyaku pelan.

Dia memegang tanganku dan bangun. Bajunya yang berlendir mulai menetes-netes di lantai. Aku menatapnya jijik sementara ia menatap bajunya kesal. Aku lalu tertawa. Awalnya hanya pelan lalu semakin kencang dan malah terbahak-bahak. Dia pun ikut tersenyum dan tertawa juga.

“Aku tidak akan pernah mengajakmu minum.” Ujar pria itu di sela-sela tawanya.

“Hei, aku tidak separah mereka.” Balasku membela diri sendiri.

Setelah puas tertawa aku mengantarnya ke kamar mandi dan mencarikan handuk bersih untuknya. Aku menaruh handuk itu di atas meja kecil di depan kamar mandi. Setelah itu aku menaruh belanjaan para gadis pemabuk di kamar Hyeon.

“Hei, bisa tolong ambilkan baju gantiku di mobil tidak?” Tanya Hye Jin dari belakangku.

Aku berbalik dan menggangguk. Tapi langsung memalingkan wajahku. Ia hanya memakai celananya saja. Handuknya dibiarkan di lehernya. Aku berusaha melupakan fakta itu dan berjalan kedepan.

“Kuncinya disini.” Ujar pria itu.

Aku berbalik dan menghindari matanya. Hye Jin menggantungkan kunci itu di udara. Aku hendak mengambil kunci itu, tapi ia menarik tangannya. “Kau tidak pernah melihat badan laki-laki?” Tanyanya jail.

“Serius deh, kita mungkin bercanda tadi. Tapi ini bukan hal yang bisa di becandain.” Omelku kesal. Ia hanya terkekeh dan memberikanku kunci mobilnya.

“Iya Hime-sama.” ledeknya.

Aku tidak membalas dan segera mengambil bajunya dari dalam mobil. Karena ada sepasang baju dan celana, jadi kuambil saja dua-duanya. Setelah itu aku kembali ke dalam rumah dan memberikannya baju dan celana itu.

“Arigato.” Ucapnya sambil tersenyum yang kuartikan meledek.

Setelah ia berganti baju di kamar Hyeon ia keluar dengan kemeja hitam lengan pendek dan celana putih selututnya. “Bagaimana dengan kedua anak itu?” tanya Hye Jin sambil menunjuk Mai dan Hyeon. Sebelumnya aku sempat mengelap mulut Mai dengan jijik tapi tidak berani dekat-dekat lagi karena mual.

“Katakan aku jahat, tapi aku tidak akan mengurusi orang mabuk.” Aku mengangkat tanganku dengan wajah yang dibuat serius. Ia tertawa.

“Baiklah, sepertinya kopiku diganti dengan muntah. Tinggal handphone mu saja yang diganti deh.” Ujar pria itu dengan ekspresi tidak kalah serius. Kali ini akulah yang tertawa.

“Karena kau menolak ajakan minum kopi denganku, sepertinya aku harus pulang.” Ucap pria itu sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan anggukkan ringan.